MAKALAH
ILMU LINGKUNGAN
Gangguan
Daur Nitrogen
Akibat
Limbah Usaha Peternakan Sapi Potong
Fapet B Kelompok 4
Rastra
Ramdani 200110130017
Jaenah
Widyanti 200110130020
Siti
Rohadatul ‘Aisy .R. 200110130022
Dean
Eprahim .S. 200110130313
|
| |||
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Kegiatan
usaha peternakan pada saat ini sangat berkembang. Dengan berkembangnya usaha
peternakan, maka limbah yang dihasilkan dari usaha peternakan bertambah pula.
Limbah peternakan seperti feses dan urine banyak mengandung nitrogen. Nitrogen
merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan. Keberadaan
kandungan nitrogen dalam jumlah yang normal akan menyebabkan kesetimbangan yang
baik bagi kelangsungan kehidupan, namun apabila kandungan nitrogen terlalu
sedikit atau terlalu banyak akan menyebabkan ancaman lingkungan. Kandungan
nitrogen yang terlalu banyak dan mengalir ke laut menyebabkan pertumbuhan
alga menjadi pesat dan akan menimbulkan kerusakan perairan. Pertumbuhan alga
yang pesat dan terjadinya kerusakan perairan merupakan salah satu gangguan daur
nitrogen
Daur nitrogen merupakan salah satu daur yang sangat penting bagi
kehidupan. Hal ini karena dengan adanya daur tersebut nitrogen dapat terus mengalami
pembentukan. Pentingnya nitrogen dan perlunya
perhatian kita terhadap kerusakan akibat kelebihan nitrogen, mendorong kami
menyusun makalah ini. Makalah ini disusun sebagai langkah awal pendalaman
materi dan kepedulian terhadap lingkungan akibat dunia peternakan. Makalah ini
berisi tentang daur nitrogen yang terjadi secara alami dan daur nitrogen yang
terganggu dan menyebabkan kerusakan lingkungan.
1.2 Identifikasi
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan daur nitrogen?
2. Bagaimana
tahapan dari daur nitrogen?
3. Berapa kandungan
nitrogen dalam limbah peternakan sapi potong?
4.
Apa yang
menyebabkan terjadinya gangguan daur nitrogen akibat limbah usaha
peternakan sapi potong?
5.
Apa akibat dari kandungan limbah usaha peternakan sapi
potong terhadap kehidupan?
6.
Bagaimana
solusi untuk mengurangi gangguan daur nitrogen yang disebabkan oleh limbah usaha
peternakan sapi potong?
1.3. Maksud dan Tujuan
1. Mengetahui maksud dari daur nitrogen.
2.
Mengetahui tahapan
dari daur nitrogen.
3.
Mengetahui kandungan
nitrogen dalam limbah peternakan sapi potong.
4.
Mengetahui penyebab terjadinya gangguan daur nitrogen akibat limbah usaha peternakan sapi
potong.
5.
Mengetahui akibat dari
gangguan daur nitrogen yang diakibatkan oleh limbah usaha peternakan sapi
potong.
6.
Mengetahui
solusi untuk mengurangi gangguan daur nitrogen yang disebabkan oleh limbah usaha
peternakan sapi potong.
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Jenis Limbah Usaha Peternakan
Limbah ternak adalah
sisa dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak,
rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan sebagainya. Limbah tersebut
meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan,
embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dan
lain-lain. Semakin berkembangnya usaha peternakan, limbah yang dihasilkan semakin
meningkat (Sihombing. 2000).
Total limbah yang
dihasilkan peternakan tergantung dari species ternak, besar usaha, tipe usaha
dan lantai kandang. Kotoran sapi yang terdiri dari feses dan urine merupakan
limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar manure dihasilkan
oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau kambing, dan domba. Umumnya setiap
kilogram susu yang dihasilkan ternak perah menghasilkan 2 kg limbah padat,
yaitu feses. Sedangkan setiap kilogram daging yang dihasilkan ternak potong menghasilkan
25 kg feses (Sihombing. 2000). Menurut Soehadji (1992), limbah peternakan
meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan
baik berupa limbah padat dan cairan, gas, maupun sisa pakan. Limbah padat
merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran
ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang
berbentuk cairan atau dalam fase cairan seperti air seni atau urine dan air
dari pencucian alat-alat. Sedangkan limbah gas adalah semua limbah berbentuk
gas atau dalam fase gas.
Pencemaran karena
gas metan menyebabkan bau yang tidak enak bagi lingkungan sekitar. Gas metan
(CH4) berasal dari proses pencernaan ternak ruminansia.
Gas metan ini adalah salah satu gas yang bertanggung jawab terhadap pemanasan
global dan perusakan ozon, dengan laju 1 % per tahun dan terus meningkat
(Soehadji. 1992).
Menurut Lingga
(1991), kandungan zat hara yang terdapat dalam limbah yang dihasilkan oleh
ternak, yaitu:
Tabel 1. Jenis
dan Kandungan Zat Hara pada beberapa Kotoran Ternak Padat dan Cair
|
2.2
Dampak Limbah Usaha Peternakan
Limbah ternak masih
mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan
jasad renik yang dapat menimbulkan pencemaran. Suatu studi mengenai pencemaran
air oleh limbah peternakan melaporkan bahwa total sapi dengan berat badannya
5.000 kg selama satu hari, produksi manurenya dapat mencemari 9.084 x 10 7 m3 air.
Selain melalui air, limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara
biologis yaitu sebagai media untuk berkembang biaknya lalat. Kandungan air
manure antara 27-86 % merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan dan
perkembangan larva lalat, sementara kandungan air manure 65-85 % merupakan
media yang optimal untuk bertelur lalat (Soehadji. 1992).
Kehadiran limbah
ternak dalam keadaan keringpun dapat menimbulkan pencemaran yaitu dengan
menimbulkan debu. Pencemaran udara di lingkungan penggemukan sapi yang paling
hebat ialah sekitar pukul 18.00, kandungan debu pada saat tersebut lebih dari
6000 mg/m3, jadi sudah melewati ambang batas yang
dapat ditolelir untuk kesegaran udara di lingkungan (3000 mg/m3) (Soehadji. 1992).
Salah satu akibat
dari pencemaran air oleh limbah ternak ruminansia ialah meningkatnya kandungan
nitrogen. Kandungan nitrogen yang meningkat mengakibatkan terjadinya gangguan
pada salah satu daur biogeokimia, yaitu daur nitrogen. Senyawa nitrogen sebagai
polutan mempunyai efek polusi yang spesifik, dimana kehadirannya dapat
menimbulkan konsekuensi penurunan kualitas perairan sebagai akibat terjadinya
proses eutrofikasi, penurunan konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil proses
nitrifikasi yang terjadi di dalam air yang dapat mengakibatkan terganggunya
kehidupan biota air (Farida. 1978).
Hasil penelitian
dari limbah cair Rumah Pemotongan Hewan Cakung, Jakarta yang dialirkan ke
sungai Buaran mengakibatkan kualitas air menurun, yang disebabkan oleh
kandungan sulfida dan amoniak bebas di atas kandungan maksimum kriteria
kualitas air. Selain itu adanya Salmonella sp. yang membahayakan kesehatan manusia
(Farida. 1978).
Tinja dan urine dari
hewan yang tertular dapat sebagai sarana penularan penyakit, misalnya saja
penyakit anthrax melalui kulit manusia yang terluka atau tergores.Spora anthrax
dapat tersebar melalui darah atau daging yang belum dimasak yang mengandung
spora. Kasus anthrax sporadik pernah terjadi di Bogor tahun 2001 dan juga
pernah menyerang Sumba Timur tahun 1980 dan burung unta di Purwakarta tahun
2000 (Soeharsono. 2002).
2.3
Daur
Nitrogen
Daur
nitrogen merupakan salah satu dari daur biogeokimia. Daur biogeokimia merupakan
rangkaian perubahan bentuk unsur-unsur kimia yang melibatkan komponen-komponen
biotik dan abiotik dari ekosistem. Fungsi daur biogeokimia adalah sebagai daur materi
yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang
ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan
hidup di bumi dapat terjaga. Berdasarkan macamnya daur biogeokimia terbagi
menjadi lima, yaitu daur fosfor, daur karbon, daur oksigen, daur sulfur dan
daur nitrogen (Cotton dan Wilkinson. 1989).
Nitrogen merupakan unsur terpenting,
karena menjadi penyusun asam amino dan asam nukleat. Nitrogen merupakan unsur
makro pertumbuhan tanaman. Kekurangan nitrogen mengakibatkan daun menguning dan
buah menjadi kecil. Tanaman yang kekurangan nitrogen membutuhkan asupan pupuk
nitrogen yang cukup (Suryadientina. 2009).
Sumber nitrogen terbesar adalah N2
di atmosfer bumi. Namun molekul ini relative stabil atau sukar bereaksi
sehingga dibutuhkan energy besar untuk memecahnya. Proses pemecahan nitrogen di udara secara alami bisa
terjadi melalui:
1.
Petir
memiliki energi yang besar untuk memecah nitrogen, sehingga dapat bersenyawa
dengan oksigen membentuk nitrat. Nitrat jatuh ke tanah dan menjadi unsur hara
yang menyuburkan tanaman.
2.
Fiksasi
oleh miroorganisme pengikat nitrogen. Umumnya tidak ada makhluk hidup yang mampu memanfaatkan nitrogen secara
langsung dari udara, namun ada beberapa bakteri yang memfiksasi nitrogen dan
mengubahnya menjadi nitrat. Bakteri ini bersimbiosis mutualistik, artinya
saling menguntungkan. Bakteri mendapatkan tempat hidup dan tanaman memperoleh
kebutuhan hara, yaitu nitrogen (Suryadientina. 2009).
Daur nitrogen adalah proses
perubahan nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik yaitu amonia (NH3),
NO2, NO3,
kemudian menjadi nitrogen anorganik lagi. Nitrogen merupakan unsur penting
dalam pembentukan asam amino, asam nukleat baik ARN ataupun ADN. Nitrogen
adalah komponen gas yang paling banyak terkandung di atmosfer yaitu kurang
lebih 80%. Nitrogen yang ada di atmosfer ditemukan dalam bentuk N2
(gas Nitrogen) disebut sebagai nitrogen anorganik (Suryadientina.
2009).
Untuk dapat dimanfaatkan oleh
makhluk hidup, nitrogen anorganik harus di ubah terlebih dahulu menjadi
nitrogen organik. Tidak semua makhluk hidup dapat merubah nitrogen anorganik
menjadi nitrogen organik. Proses perubahan nitrogen menjadi materi organik
hanya bisa dilakukan oleh mikroorganisme prokariota tertentu yang memiliki
kemampuan untuk menfiksasi nitrogen menjadi amonia. Serta oleh reaksi nitrogen
dengan oksigen atau hidrogen dengan bantuan petir yang menghasilkan senyawa
nitrit ataupun nitrat (Suryadientina. 2009).
Amonia
serta nitrit atau nitrat yang terbentuk kemudian diserap oleh tumbuhan sebagai
bahan pembentuk protein. Ketika hewan dan manusia memakan tumbuhan tersebut
maka nitrogen yang ada dalam tumbuhan tersebut akan berpindah pada ketubuh
hewan dan manusia. Selanjutnya nitrogen dari hewan dan manusia kembali kealam
melalui sisa hasil ekresi dalam bentuk urine, atau dekomposisi makhluk hidup
yang telah mati oleh bakteri pengurai menjadi garam amonium (NH4)
dan gas amoniak (NH3) (Suryadientina. 2009).
Kemudian oleh bakteri Nitrosomonas, amonia diubah menjadi
nitrit. Nitrit oleh bakteri Nitrobacter
(bakteri nitrat) kemudian akan di ubah menjadi nitrat. Proses perubahan amonia
menjadi nitrit dan nitrat disebut sebagai proses nitrifikasi. Proses terakhir
dalam daur nitrogen adalah perubahan nitrit dan nitrat menjadi gas nitrogen
yang hanya bisa dilakukan oleh bakteri denitrifikasi. Nitrogen yang kembali ke
atmosfer akan mengulang daur dari awal lagi, begitu seterusnya (Suryadientina.
2009).
Secara umum daur nitrogen atau daur
nitrogen terdiri dari beberapa tahap, antara lain:
- Tahap pertama adalah proses perubahan gas nitrogen menjadi amonia oleh bakteri fiksasi nitrogen atau bisa disebut fiksasi nitrogen. Fiksasi nitrogen secara biologis dapat dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan tanaman leguminosa. Bakteri yang berperan dalam fiksasi nitrogen antara lain adalah bakteri Azotobacter dan Clostridium. Selain itu ganggang hijau biru dalam air juga memiliki kemampuan memfiksasi nitrogen.
- Tahap kedua adalah proses amonifikasi. Amonifikasi adalah pengubahan ammonia dan nitrat menjadi ammonium. Amonium bisa dihasilkan dari pengubahan nitrat. Proses ini sebenarnya merugikan tanaman karena jumlah nitrat ditanah menjadi berkurang. Contoh bakteri yang berperan dalam amonifikasi nitrat menjadi ammonium adalah Micrococcus denitrifican. Amonium juga terbentuk dari perombakan jasad mati makhluk hidup. Hasil ekskresi dan jasad mati makhluk hidup terdekomposisi oleh detritvor menghasilkan ammonia (NH3). Amonia diubah menjadi ammonium (NH4). Amonium memang bisa dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan, tetapi sebagian besar digunakan oleh bakteri aerob sebagai sumber energi.
- Tahap ketiga adalah proses perubahan amonium menjadi nitrat atau nitrit disebut proses nitrifikasi. Nitrifikasi melibatkan dua tahapan proses, yaitu nitritasi kemudian nitratasi. Nitritasi adalah pengubahan ammonium menjadi nitrit (NO2). Bakteri yang berperan dalam nitritasi adalah bakteri nitrosomonas. Sedangkan nitratasi adalah pengubahan nitrit menjadi nitrat (NO3). Bakteri yang berperan dalam nitratasi adalah bakteri nitrobakter. Nitrifikasi hanya bisa berlangsung dalam kondisi aerob atau cukup oksigen. Apabila tidak cukup oksigen akan terjadi denitrifikasi.
- Tahap keempat adalah proses pelepasan nitrogen ke atmosfer atau disebut dengan denitrifikasi. Proses ini dipicu oleh jumlah oksigen terbatas dalam tanah. Pada kondisi anaerob atau kekurangan oksigen, bakteri tanah mengambil oksigen dari senyawa nitrat yang tersedia di dalam tanah. Akibatnya beberapa nitrat berubah kembali menjadi nitrogen bebas. Seperti halnya amonifikasi, proses denitrifikasi juga merugikan tanaman, karena mengurangi kesuburan tanah (Suryadientina. 2009).
III
PEMBAHASAN
3.1
Daur Nitrogen
Daur
nitrogen merupakan salah satu daur biogeokimia. Daur nitrogen adalah proses perubahan nitrogen anorganik
menjadi nitrogen organik yaitu amonia (NH3), NO2, NO3,
kemudian menjadi nitrogen anorganik lagi. Dengan kata lain daur nitrogen
merupakan perputaran pembentukan nitrogen satu dengan
pembentukan nitrogen selanjutnya. Nitrogen merupakan unsur penting dalam pembentukan asam
amino dan asam nukleat. Daur nitrogen melalui beberapa tahap, yaitu tahap
fiksasi, amonifikasi, nitrifikasi dan denitrifikasi.
Pertama, nitrogen anorganik di ubah
menjadi nitrogen organik. Tidak semua makhluk hidup dapat merubah nitrogen
anorganik menjadi nitrogen organik. Proses perubahan nitrogen menjadi materi
organik dilakukan oleh mikroorganisme prokariota tertentu yang memiliki
kemampuan untuk menfiksasi nitrogen menjadi amonia.
Kemudian ammonia serta nitrit atau
nitrat diubah menjadi ammonium (NH4) melalui proses amonifikasi. Kemudian
oleh bakteri Nitrosomonas, amonium
diubah menjadi nitrit. Nitrit oleh bakteri Nitrobacter
(bakteri nitrat) kemudian akan di ubah menjadi nitrat. Proses perubahan amonium
menjadi nitrit dan nitrat disebut sebagai proses nitrifikasi. Proses terakhir
dalam daur nitrogen adalah perubahan nitrit dan nitrat menjadi gas nitrogen
yang hanya bisa dilakukan oleh bakteri denitrifikasi. Bakteri tersebut melepas
nitrogen untuk kembali ke atmosfer. Nitrogen yang kembali ke atmosfer akan
mengulang daur dari awal lagi, begitu seterusnya.
3.2
Kandungan Nitrogen dalam Limbah
Usaha Peternakan Sapi Potong
Limbah peternakan
sapi yang paling besar dihasilkan merupakan feses, urin dan sisa pakan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Sihombing tahun 2000, kotoran sapi yang
terdiri dari feses dan urin merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan
dan sebagian besar manure dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi baik
sapi potong maupun sapi perah. Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan
sapi perah menghasilkan 2 kg limbah padat (feses), dan setiap kilogram daging
yang dihasilkan sapi potong menghasilkan 25 kg feses.
Feses, urin dan sisa
pakan merupakan limbah peternakan yang memiliki kandungan nitrogen yang cukup
tinggi dibandingkan dengan senyawa lainnya terutama urin dan feses. Kandungan
nitrogen dalam urin dan feses sapi merupakan kandungan terbanyak kedua setelah
kandungan air. Hal tersebut sesuai dengan literature menurut Lingga (1991),
yaitu:
Tabel 1. Jenis dan Kandungan
Zat Hara pada beberapa Kotoran Ternak Padat dan Cair
|
3.3
Penyebab Gangguan Daur Nitrogen Akibat Limbah
Usaha Peternakan Sapi Potong
Usaha peternakan
sapi potong yang besar tentunya menghasilkan limbah yang banyak pula. Limbah
sapi potong tersebut seperti feses, urin dan sisa pakan. Banyaknya limbah
peternakan sapi dapat menyebabkan banyaknya kandungan nitrogen yang menguap ke
udara dan mengalir ke perairan dan tanah. Udara, perairan dan tanah
merupakan daerah dimana daur nitrogen terjadi. Terlalu banyaknya nitrogen yang
mengalir dalam daur nitrogen menyebabkan “overdosis” nitrogen atau terlalu
melimpahnya nitrogen yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan daur nitrogen.
Hal ini ini dapat terjadi karena pemasukan nitrogen tidak sama dengan nitrogen
yang dikeluarkan dengan kata lain melebihi ambang batas normal kandungan
nitrogen. Menurut literatur, telah diperkirakan bahwa pemasukan nitrogen
terfiksasi ke dalam daur nitrogen melalui aktivitas manusia sekarang menyamai
atau melebihi yang berasal dari sumber alami.
3.4
Akibat dari Kandungan Nitrogen Limbah
Usaha Peternakan Sapi Potong terhadap Kehidupan
3.4.1
Kabut dan Hujan Asam
Nitrogen yang
dihasilkan dari limbah perusahaan peternakan sapi potong dapat berupa
oksida nitrat di udara. Oksida nitrat (N2O) yang mencapai
lapisan stratosfer akibat membludaknya kandungan nitrogen di udara, dapat
mempercepat kerusakan lapisan ozon, sehingga menghasilkan tingkat radiasi
sinar Ultraviolet (UV) yang lebih tinggi dan risiko kanker kulit serta
katarak pun meningkat. Selain itu apabila N2O lebih dekat ke
permukaan bumi, dapat menyebabkan kabut di siang hari yang cerah. Kabut
tersebut terkait dengan masalah-masalah pernapasan, kerusakan paru-paru,
risiko kanker yang meningkat dan melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia dan
ternak.
Kandungan oksida
nitrat yang tinggi dan bersifat larut dalam air akan bercampur dengan air
dan apabila terjadi hujan asam dapat menyebabkan kerusakan terhadap makhluk
hidup dan benda di bumi. Makhluk hidup seperti tanaman yang terkena hujan asam
akan mengalami kelayuan dan kerusakan akibat asam yang tinggi dan bersifat
korosi. Hujan asam yang bersifat korosif dapat menyebabkan kerusakan pada
batuan, logam dan bangunan.
3.4.2
Kontaminasi Air
Senyawa-senyawa
nitrogen dalam sisa pakan sapi potong menyebabkan pelepasan nitrogen ke dalam
arus air dan sungai. Alga yang pertumbuhannya biasanya dihambat oleh
ketersediaan nitrogen, dengan menggunakan kandungan nitrogen ini untuk dapat
tumbuh terlalu pesat dan di luar kendali, sehingga dapat menyebabkan
kerumunan alga yang besar. Kemudian kerumunan alga tersebut menggunakan semua
oksigen di air dan memblokir masuknya cahaya, sehingga secara perlahan-lahan
membunuh kehidupan akuatik dan mencegah tanaman-tanaman bawah laut untuk
berfotosintesis.
Menurut literatur,
bila terjadi hujan lebat, air akan membawa nitrat dari tanah masuk ke dalam
aliran sungai, danau, dan waduk. Kemudian menuju lautan dalam kandungan yang
cukup tinggi. Hal ini akan merangsang tumbuhnya alga dan tanaman air lainnya.
Kelimpahan unsure nutrisi nitrat ini dalam air disebut Euthrophication.
Pengaruh negatif eutropikasi ini ialah terjadinya perubahan keseimbangan
kehidupan antara tanaman air dan hewan air.
3.4.3
Kontaminasi Tanah
Limbah peternakan yang memiliki kandungan nitrogen
yang tinggi. Kandungan nitrogen yang lebih tinggi dalam tanah menyebabkan
berkurangnya populasi tanaman. Hal ini karena hanya sedikit tanaman yang mampu
bertahan untuk dapat berkompetisi. Tanaman-tanaman yang cenderung dapat
berkompetisi adalah tanaman-tanaman yang mampu dengan cepat memanfaatkan
kelebihan nitrogen untuk pertumbuhan yang cepat, sehingga menyisakan lebih
sedikit sumber daya dan lebih banyak naungan untuk spesies lain. Hal ini bisa
menyebabkan banyak spesies tanaman yang menjadi punah, dan pada gilirannya akan
berpengaruh terhadap semua hewan, serangga dan burung-burung yang
menggunakannya.
3.4.4 Pemanasan Global
Nitrogen oksida
berkontribusi bagi pemanasan global. Walaupun konsentrasi oksida nitrat di
atmosfer sangat rendah dibanding karbon dioksida, potensi pemanasan global
oksida nitrat adalah sekitar 300 kali lebih besar. Jadi walaupun karbon
dioksida menyebabkan perubahan iklim dan masalah-masalah yang terkait dengannya,
senyawa-senyawa nitrogen bisa menyebabkan masalah yang lebih buruk.
Senyawa-senyawa nitrogen memiliki potensi pemanasan global yang lebih besar,
bisa mengarah pada masalah perubahan iklim yang lebih besar, dan menyebabkan
malapetakan bagi kesehatan dan lingkungan.
3.5
Solusi
dalam Mengurangi Terjadinya Gangguan Daur Nitrogen Akibat Limbah Usaha
Peternakan Sapi Potong
Berikut
ini adalah beberapa cara yang dapat dipakai untuk mengurangi terjadinya gangguan
daur nitrogen akibat limbah usaha peternakan sapi potong:
- Penanaman hijauan diselingi leguminosa, hal ini ditujukan agar terjadi perputaran daur nitrogen sehingga nitrogen bebas dapat difiksasi.
- Pemilihan lokasi, hal ini ditujukan agar tidak merusak lingkungan karena pembukaan lahan yang menyebabkan populasi tanaman semakin berkurang, air menjadi terkontaminasi, tanah menjadi terkontaminasi. Dengan hal tersebut maka kandungan nitrogen yang terlepas semakin berkurang.
- Menjadikan feses dan urin ternak sebagai pupuk, misalnya pupuk organik cair dan padat dengan proses yang tidak terlalu lama. Pupuk dibuat dengan kadar nitrogen yang cukup.
IV
KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan
dalam makalah ini dapat disimpulkan beberapa pernyataan, antara lain :
- Daur nitrogen adalah proses perubahan nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik yaitu amonia (NH3), NO2, NO3, kemudian menjadi nitrogen anorganik lagi.
- Daur nitrogen dapat terjadi melalui beberapa tahap, yaitu tahap fiksasi, amonifikasi, nitrifikasi dan denitrifikasi.
- Kandungan nitrogen dalam limbah usaha peternakan sapi potong cukup tinggi dibandingkan dengan senyawa lainnya terutama urin dan feses. Kandungan nitrogen dalam urin dan feses sapi merupakan kandungan terbanyak kedua setelah kandungan air.
- Limbah usaha peternakan sapi potong sangat berpengaruh terhadap gangguan daur nitrogen. Banyaknya limbah peternakan sapi potong dapat menyebabkan banyaknya kandungan nitrogen yang menguap ke udara dan mengalir ke perairan dan tanah. Banyaknya nitrogen yang terlepas menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan daur nitrogen.
- Kandungan nitrogen dalam limbah usaha peternakan sapi potong mengakibatkan terjadinya hujan asam, kontaminasi air, kontaminasi tanah dan pemanasan global.
- Solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi gangguan daur nitrogen, yaitu dengan melakukan penanaman hijauan diselingi tanaman leguminosa, pemilihan lokasi peternakan yang tepat dan menjadikan feses dan urin sebagai pupuk yang akan berguna untuk tanaman.
DAFTAR
PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar