Selasa, 17 November 2015

Gangguan Daur Nitrogen Akibat Limbah Usaha Peternakan Sapi Potong



MAKALAH ILMU LINGKUNGAN

Gangguan Daur Nitrogen
Akibat Limbah Usaha Peternakan Sapi Potong




Fapet B     Kelompok 4
Rastra Ramdani                      200110130017
Jaenah Widyanti                     200110130020
Siti Rohadatul ‘Aisy .R.         200110130022
Dean Eprahim .S.                   200110130313  









FAKULTAS PETERNAKAN
 UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2013




I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Kegiatan usaha peternakan pada saat ini sangat berkembang. Dengan berkembangnya usaha peternakan, maka limbah yang dihasilkan dari usaha peternakan bertambah pula. Limbah peternakan seperti feses dan urine banyak mengandung nitrogen. Nitrogen merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan. Keberadaan kandungan nitrogen dalam jumlah yang normal akan menyebabkan kesetimbangan yang baik bagi kelangsungan kehidupan, namun apabila kandungan nitrogen terlalu sedikit atau terlalu banyak akan menyebabkan ancaman lingkungan. Kandungan nitrogen yang terlalu banyak dan mengalir ke laut menyebabkan pertumbuhan alga menjadi pesat dan akan menimbulkan kerusakan perairan. Pertumbuhan alga yang pesat dan terjadinya kerusakan perairan merupakan salah satu gangguan daur nitrogen
Daur nitrogen merupakan salah satu daur yang sangat penting bagi kehidupan. Hal ini karena dengan adanya daur tersebut nitrogen dapat terus mengalami pembentukan. Pentingnya nitrogen dan perlunya perhatian kita terhadap kerusakan akibat kelebihan nitrogen, mendorong kami menyusun makalah ini. Makalah ini disusun sebagai langkah awal pendalaman materi dan kepedulian terhadap lingkungan akibat dunia peternakan. Makalah ini berisi tentang daur nitrogen yang terjadi secara alami dan daur nitrogen yang terganggu dan menyebabkan kerusakan lingkungan.

1.2  Identifikasi Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan daur nitrogen?
2.      Bagaimana tahapan dari daur nitrogen?
3.      Berapa kandungan nitrogen dalam limbah peternakan sapi potong?
4.      Apa yang menyebabkan terjadinya gangguan daur nitrogen akibat limbah usaha peternakan sapi potong?
5.      Apa akibat dari kandungan limbah usaha peternakan sapi potong terhadap kehidupan?
6.      Bagaimana solusi untuk mengurangi gangguan daur nitrogen yang disebabkan oleh limbah usaha peternakan sapi potong?

1.3. Maksud dan Tujuan
1.      Mengetahui maksud dari daur nitrogen.
2.      Mengetahui tahapan dari daur nitrogen.
3.      Mengetahui kandungan nitrogen dalam limbah peternakan sapi potong.
4.      Mengetahui penyebab terjadinya gangguan daur nitrogen akibat limbah usaha peternakan sapi potong.
5.      Mengetahui akibat dari gangguan daur nitrogen yang diakibatkan oleh limbah usaha peternakan sapi potong.
6.      Mengetahui solusi untuk mengurangi gangguan daur nitrogen yang disebabkan oleh limbah usaha peternakan sapi potong.









II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1        Jenis Limbah Usaha Peternakan
Limbah ternak adalah sisa dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan sebagainya. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dan lain-lain. Semakin berkembangnya usaha peternakan, limbah yang dihasilkan semakin meningkat (Sihombing. 2000).
Total limbah yang dihasilkan peternakan tergantung dari species ternak, besar usaha, tipe usaha dan lantai kandang. Kotoran sapi yang terdiri dari feses dan urine merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar manure dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau kambing, dan domba. Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak perah menghasilkan 2 kg limbah padat, yaitu feses. Sedangkan setiap kilogram daging yang dihasilkan ternak potong menghasilkan 25 kg feses (Sihombing. 2000). Menurut Soehadji (1992), limbah peternakan meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan baik berupa limbah padat dan cairan, gas, maupun sisa pakan. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau dalam fase cairan seperti air seni atau urine dan air dari pencucian alat-alat. Sedangkan limbah gas adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas.
Pencemaran karena gas metan menyebabkan bau yang tidak enak bagi lingkungan sekitar. Gas metan (CH4) berasal dari proses pencernaan ternak ruminansia. Gas metan ini adalah salah satu gas yang bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perusakan ozon, dengan laju 1 % per tahun dan terus meningkat (Soehadji. 1992).
Menurut Lingga (1991), kandungan zat hara yang terdapat dalam limbah yang dihasilkan oleh ternak, yaitu:
Tabel 1. Jenis dan Kandungan Zat Hara pada beberapa Kotoran Ternak Padat dan Cair
No.
Nama Ternak
Bentuk Kotoran
N (%)
F (%)
K (%)
Air (%)
1.
Kuda
Padat
0.55
0.30
0.40
75
Cair
1.40
0.02
1.60
90
2.
Kerbau
Padat
0.60
0.30
0.34
85
Cair
1.00
0.15
1.50
92
3.
Sapi
Padat
0.40
0.20
0.10
85
Cair
1.00
0.50
1.50
92
4.
Kambing
Padat
0.60
0.30
0.17
60
Cair
1.50
0.13
1.80
85
5.
Domba
Padat
0.75
0.50
0.45
60
Cair
1.35
0.05
2.10
85

2.2        Dampak Limbah Usaha Peternakan 
Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik yang dapat menimbulkan pencemaran. Suatu studi mengenai pencemaran air oleh limbah peternakan melaporkan bahwa total sapi dengan berat badannya 5.000 kg selama satu hari, produksi manurenya dapat mencemari 9.084 x 10 7 m3 air. Selain melalui air, limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara biologis yaitu sebagai media untuk berkembang biaknya lalat. Kandungan air manure antara 27-86 % merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan larva lalat, sementara kandungan air manure 65-85 % merupakan media yang optimal untuk bertelur lalat (Soehadji. 1992).
Kehadiran limbah ternak dalam keadaan keringpun dapat menimbulkan pencemaran yaitu dengan menimbulkan debu. Pencemaran udara di lingkungan penggemukan sapi yang paling hebat ialah sekitar pukul 18.00, kandungan debu pada saat tersebut lebih dari 6000 mg/m3,  jadi sudah melewati ambang batas yang dapat ditolelir untuk kesegaran udara di lingkungan (3000 mg/m3) (Soehadji. 1992).
Salah satu akibat dari pencemaran air oleh limbah ternak ruminansia ialah meningkatnya kandungan nitrogen. Kandungan nitrogen yang meningkat mengakibatkan terjadinya gangguan pada salah satu daur biogeokimia, yaitu daur nitrogen. Senyawa nitrogen sebagai polutan mempunyai efek polusi yang spesifik, dimana kehadirannya dapat menimbulkan konsekuensi penurunan kualitas perairan sebagai akibat terjadinya proses eutrofikasi, penurunan konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil proses nitrifikasi yang terjadi di dalam air yang dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota air (Farida. 1978).
Hasil penelitian dari limbah cair Rumah Pemotongan Hewan Cakung, Jakarta yang dialirkan ke sungai Buaran mengakibatkan kualitas air menurun, yang disebabkan oleh kandungan sulfida dan amoniak bebas di atas kandungan maksimum kriteria kualitas air. Selain itu adanya Salmonella sp. yang membahayakan kesehatan manusia (Farida. 1978).
Tinja dan urine dari hewan yang tertular dapat sebagai sarana penularan penyakit, misalnya saja penyakit anthrax melalui kulit manusia yang terluka atau tergores.Spora anthrax dapat tersebar melalui darah atau daging yang belum dimasak yang mengandung spora. Kasus anthrax sporadik pernah terjadi di Bogor tahun 2001 dan juga pernah menyerang Sumba Timur tahun 1980 dan burung unta di Purwakarta tahun 2000 (Soeharsono. 2002).

2.3        Daur Nitrogen
Daur nitrogen merupakan salah satu dari daur biogeokimia. Daur biogeokimia merupakan rangkaian perubahan bentuk unsur-unsur kimia yang melibatkan komponen-komponen biotik dan abiotik dari ekosistem. Fungsi daur biogeokimia adalah sebagai daur materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga. Berdasarkan macamnya daur biogeokimia terbagi menjadi lima, yaitu daur fosfor, daur karbon, daur oksigen, daur sulfur dan daur nitrogen (Cotton dan Wilkinson. 1989).
Nitrogen merupakan unsur terpenting, karena menjadi penyusun asam amino dan asam nukleat. Nitrogen merupakan unsur makro pertumbuhan tanaman. Kekurangan nitrogen mengakibatkan daun menguning dan buah menjadi kecil. Tanaman yang kekurangan nitrogen membutuhkan asupan pupuk nitrogen yang cukup (Suryadientina. 2009).
Sumber nitrogen terbesar adalah N2 di atmosfer bumi. Namun molekul ini relative stabil atau sukar bereaksi sehingga dibutuhkan energy besar untuk memecahnya. Proses pemecahan nitrogen di udara secara alami bisa terjadi melalui:
1.      Petir memiliki energi yang besar untuk memecah nitrogen, sehingga dapat bersenyawa dengan oksigen membentuk nitrat. Nitrat jatuh ke tanah dan menjadi unsur hara yang menyuburkan tanaman.
2.      Fiksasi oleh miroorganisme pengikat nitrogen. Umumnya tidak ada makhluk hidup yang mampu memanfaatkan nitrogen secara langsung dari udara, namun ada beberapa bakteri yang memfiksasi nitrogen dan mengubahnya menjadi nitrat. Bakteri ini bersimbiosis mutualistik, artinya saling menguntungkan. Bakteri mendapatkan tempat hidup dan tanaman memperoleh kebutuhan hara, yaitu nitrogen (Suryadientina. 2009).
Daur nitrogen adalah proses perubahan nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik yaitu amonia (NH3), NO2, NO3, kemudian menjadi nitrogen anorganik lagi. Nitrogen merupakan unsur penting dalam pembentukan asam amino, asam nukleat baik ARN ataupun ADN. Nitrogen adalah komponen gas yang paling banyak terkandung di atmosfer yaitu kurang lebih 80%. Nitrogen yang ada di atmosfer ditemukan dalam bentuk N2 (gas Nitrogen) disebut sebagai nitrogen anorganik (Suryadientina. 2009).
Untuk dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup, nitrogen anorganik harus di ubah terlebih dahulu menjadi nitrogen organik. Tidak semua makhluk hidup dapat merubah nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik. Proses perubahan nitrogen menjadi materi organik hanya bisa dilakukan oleh mikroorganisme prokariota tertentu yang memiliki kemampuan untuk menfiksasi nitrogen menjadi amonia. Serta oleh reaksi nitrogen dengan oksigen atau hidrogen dengan bantuan petir yang menghasilkan senyawa nitrit ataupun nitrat (Suryadientina. 2009).
Amonia serta nitrit atau nitrat yang terbentuk kemudian diserap oleh tumbuhan sebagai bahan pembentuk protein. Ketika hewan dan manusia memakan tumbuhan tersebut maka nitrogen yang ada dalam tumbuhan tersebut akan berpindah pada ketubuh hewan dan manusia. Selanjutnya nitrogen dari hewan dan manusia kembali kealam melalui sisa hasil ekresi dalam bentuk urine, atau dekomposisi makhluk hidup yang telah mati oleh bakteri pengurai menjadi garam amonium (NH4) dan gas amoniak (NH3) (Suryadientina. 2009).
Kemudian oleh bakteri Nitrosomonas, amonia diubah menjadi nitrit. Nitrit oleh bakteri Nitrobacter (bakteri nitrat) kemudian akan di ubah menjadi nitrat. Proses perubahan amonia menjadi nitrit dan nitrat disebut sebagai proses nitrifikasi. Proses terakhir dalam daur nitrogen adalah perubahan nitrit dan nitrat menjadi gas nitrogen yang hanya bisa dilakukan oleh bakteri denitrifikasi. Nitrogen yang kembali ke atmosfer akan mengulang daur dari awal lagi, begitu seterusnya (Suryadientina. 2009).
Secara umum daur nitrogen atau daur nitrogen terdiri dari beberapa tahap, antara lain:
  1. Tahap pertama adalah proses perubahan gas nitrogen menjadi amonia oleh bakteri fiksasi nitrogen atau bisa disebut fiksasi nitrogen. Fiksasi nitrogen secara biologis dapat dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan tanaman leguminosa. Bakteri yang berperan dalam fiksasi nitrogen antara lain adalah bakteri Azotobacter dan Clostridium. Selain itu ganggang hijau biru dalam air juga memiliki kemampuan memfiksasi nitrogen.
  2. Tahap kedua adalah proses amonifikasi. Amonifikasi adalah pengubahan ammonia dan nitrat menjadi ammonium. Amonium bisa dihasilkan dari pengubahan nitrat. Proses ini sebenarnya merugikan tanaman karena jumlah nitrat ditanah menjadi berkurang. Contoh bakteri yang berperan dalam amonifikasi nitrat menjadi ammonium adalah Micrococcus denitrifican. Amonium juga terbentuk dari perombakan jasad mati makhluk hidup. Hasil ekskresi dan jasad mati makhluk hidup terdekomposisi oleh detritvor menghasilkan ammonia (NH3). Amonia diubah menjadi ammonium (NH4). Amonium memang bisa dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan, tetapi sebagian besar digunakan oleh bakteri aerob sebagai sumber energi.
  3. Tahap ketiga adalah proses perubahan amonium menjadi nitrat atau nitrit disebut proses nitrifikasi. Nitrifikasi  melibatkan dua tahapan proses, yaitu nitritasi kemudian nitratasi. Nitritasi adalah pengubahan ammonium menjadi nitrit (NO2). Bakteri yang berperan dalam nitritasi adalah bakteri nitrosomonas. Sedangkan nitratasi adalah pengubahan nitrit menjadi nitrat (NO3). Bakteri yang berperan dalam nitratasi adalah bakteri nitrobakter. Nitrifikasi hanya bisa berlangsung dalam kondisi aerob atau cukup oksigen. Apabila tidak cukup oksigen akan terjadi denitrifikasi. 
  4. Tahap keempat adalah proses pelepasan nitrogen ke atmosfer atau disebut dengan denitrifikasi. Proses ini dipicu oleh jumlah oksigen terbatas dalam tanah. Pada kondisi anaerob atau kekurangan oksigen, bakteri tanah mengambil oksigen dari senyawa nitrat yang tersedia di dalam tanah. Akibatnya beberapa nitrat berubah kembali menjadi nitrogen bebas. Seperti halnya amonifikasi, proses denitrifikasi juga merugikan tanaman, karena mengurangi kesuburan tanah (Suryadientina. 2009).






III
PEMBAHASAN

3.1        Daur Nitrogen
Daur nitrogen merupakan salah satu daur biogeokimia. Daur nitrogen adalah proses perubahan nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik yaitu amonia (NH3), NO2, NO3, kemudian menjadi nitrogen anorganik lagi. Dengan kata lain daur nitrogen merupakan perputaran pembentukan nitrogen satu dengan pembentukan nitrogen selanjutnya. Nitrogen merupakan unsur penting dalam pembentukan asam amino dan asam nukleat. Daur nitrogen melalui beberapa tahap, yaitu tahap fiksasi, amonifikasi, nitrifikasi dan denitrifikasi.
Pertama, nitrogen anorganik di ubah menjadi nitrogen organik. Tidak semua makhluk hidup dapat merubah nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik. Proses perubahan nitrogen menjadi materi organik dilakukan oleh mikroorganisme prokariota tertentu yang memiliki kemampuan untuk menfiksasi nitrogen menjadi amonia.
Kemudian ammonia serta nitrit atau nitrat diubah menjadi ammonium (NH4) melalui proses amonifikasi. Kemudian oleh bakteri Nitrosomonas, amonium diubah menjadi nitrit. Nitrit oleh bakteri Nitrobacter (bakteri nitrat) kemudian akan di ubah menjadi nitrat. Proses perubahan amonium menjadi nitrit dan nitrat disebut sebagai proses nitrifikasi. Proses terakhir dalam daur nitrogen adalah perubahan nitrit dan nitrat menjadi gas nitrogen yang hanya bisa dilakukan oleh bakteri denitrifikasi. Bakteri tersebut melepas nitrogen untuk kembali ke atmosfer. Nitrogen yang kembali ke atmosfer akan mengulang daur dari awal lagi, begitu seterusnya.

3.2        Kandungan Nitrogen dalam Limbah Usaha Peternakan Sapi Potong
Limbah peternakan sapi yang paling besar dihasilkan merupakan feses, urin dan sisa pakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sihombing tahun  2000, kotoran sapi yang terdiri dari feses dan urin merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar manure dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi baik sapi potong maupun sapi perah. Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan sapi perah menghasilkan 2 kg limbah padat (feses), dan setiap kilogram daging yang dihasilkan sapi potong menghasilkan 25 kg feses.
Feses, urin dan sisa pakan merupakan limbah peternakan yang memiliki kandungan nitrogen yang cukup tinggi dibandingkan dengan senyawa lainnya terutama urin dan feses. Kandungan nitrogen dalam urin dan feses sapi merupakan kandungan terbanyak kedua setelah kandungan air. Hal tersebut sesuai dengan literature menurut Lingga (1991), yaitu:
Tabel 1. Jenis dan Kandungan Zat Hara pada beberapa Kotoran Ternak Padat dan Cair
No.
Nama Ternak
Bentuk Kotoran
N (%)
F (%)
K (%)
Air (%)
1.
Kuda
Padat
0.55
0.30
0.40
75
Cair
1.40
0.02
1.60
90
2.
Kerbau
Padat
0.60
0.30
0.34
85
Cair
1.00
0.15
1.50
92
3.
Sapi
Padat
0.40
0.20
0.10
85
Cair
1.00
0.50
1.50
92
4.
Kambing
Padat
0.60
0.30
0.17
60
Cair
1.50
0.13
1.80
85
5.
Domba
Padat
0.75
0.50
0.45
60
Cair
1.35
0.05
2.10
85

3.3        Penyebab Gangguan Daur Nitrogen Akibat Limbah Usaha Peternakan Sapi Potong
Usaha peternakan sapi potong yang besar tentunya menghasilkan limbah yang banyak pula. Limbah sapi potong tersebut seperti feses, urin dan sisa pakan. Banyaknya limbah peternakan sapi dapat menyebabkan banyaknya kandungan nitrogen yang menguap ke udara dan mengalir ke perairan dan tanah.  Udara, perairan dan tanah merupakan daerah dimana daur nitrogen terjadi. Terlalu banyaknya nitrogen yang mengalir dalam daur nitrogen menyebabkan “overdosis” nitrogen atau terlalu melimpahnya nitrogen yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan daur nitrogen. Hal ini ini dapat terjadi karena pemasukan nitrogen tidak sama dengan nitrogen yang dikeluarkan dengan kata lain melebihi ambang batas normal kandungan nitrogen.  Menurut literatur, telah diperkirakan bahwa pemasukan nitrogen terfiksasi ke dalam daur nitrogen melalui aktivitas manusia sekarang menyamai atau melebihi yang berasal dari sumber alami.

3.4        Akibat dari Kandungan Nitrogen Limbah Usaha Peternakan Sapi Potong terhadap Kehidupan
3.4.1  Kabut dan Hujan Asam
Nitrogen yang dihasilkan dari limbah perusahaan peternakan sapi potong dapat  berupa oksida nitrat di udara. Oksida nitrat  (N2O) yang mencapai lapisan stratosfer akibat membludaknya kandungan nitrogen di udara,  dapat mempercepat kerusakan  lapisan ozon, sehingga menghasilkan tingkat radiasi sinar Ultraviolet (UV) yang lebih tinggi dan risiko kanker kulit serta katarak  pun meningkat. Selain itu apabila N2O lebih dekat ke permukaan bumi,  dapat menyebabkan kabut di siang hari yang cerah. Kabut tersebut  terkait dengan masalah-masalah pernapasan, kerusakan paru-paru, risiko kanker yang meningkat dan melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia dan ternak.
Kandungan oksida nitrat yang tinggi dan bersifat  larut dalam air akan bercampur dengan air dan apabila terjadi hujan asam dapat menyebabkan kerusakan terhadap makhluk hidup dan benda di bumi. Makhluk hidup seperti tanaman yang terkena hujan asam akan mengalami kelayuan dan kerusakan akibat asam yang tinggi dan bersifat korosi. Hujan asam yang bersifat korosif dapat menyebabkan kerusakan pada batuan, logam dan bangunan.
3.4.2 Kontaminasi Air
Senyawa-senyawa nitrogen dalam sisa pakan sapi potong menyebabkan pelepasan nitrogen ke dalam arus air dan sungai. Alga yang pertumbuhannya biasanya dihambat oleh ketersediaan nitrogen, dengan menggunakan kandungan nitrogen ini untuk dapat tumbuh terlalu pesat dan di luar kendali, sehingga dapat menyebabkan  kerumunan alga yang besar. Kemudian kerumunan alga tersebut menggunakan semua oksigen di air dan memblokir masuknya cahaya, sehingga secara perlahan-lahan membunuh kehidupan akuatik dan mencegah tanaman-tanaman bawah laut untuk berfotosintesis.
Menurut literatur, bila terjadi hujan lebat, air akan membawa nitrat dari tanah masuk ke dalam aliran sungai, danau, dan waduk. Kemudian menuju lautan dalam kandungan yang cukup tinggi. Hal ini akan merangsang tumbuhnya alga dan tanaman air lainnya. Kelimpahan unsure nutrisi nitrat ini dalam air disebut Euthrophication. Pengaruh negatif eutropikasi ini ialah terjadinya perubahan keseimbangan kehidupan antara tanaman air dan hewan air.
3.4.3 Kontaminasi Tanah
Limbah peternakan yang memiliki kandungan nitrogen yang tinggi. Kandungan nitrogen yang lebih tinggi dalam tanah menyebabkan berkurangnya populasi tanaman. Hal ini karena hanya sedikit tanaman yang mampu bertahan untuk dapat berkompetisi. Tanaman-tanaman yang cenderung dapat berkompetisi adalah tanaman-tanaman yang mampu dengan cepat memanfaatkan kelebihan nitrogen untuk pertumbuhan yang cepat, sehingga menyisakan lebih sedikit sumber daya dan lebih banyak naungan untuk spesies lain. Hal ini bisa menyebabkan banyak spesies tanaman yang menjadi punah, dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap semua hewan, serangga dan burung-burung yang menggunakannya.
3.4.4 Pemanasan Global
Nitrogen oksida berkontribusi bagi pemanasan global. Walaupun konsentrasi oksida nitrat di atmosfer sangat rendah dibanding karbon dioksida, potensi pemanasan global oksida nitrat adalah sekitar 300 kali lebih besar. Jadi walaupun karbon dioksida menyebabkan perubahan iklim dan masalah-masalah yang terkait dengannya, senyawa-senyawa nitrogen bisa menyebabkan masalah yang lebih buruk. Senyawa-senyawa nitrogen memiliki potensi pemanasan global yang lebih besar, bisa mengarah pada masalah perubahan iklim yang lebih besar, dan menyebabkan malapetakan bagi kesehatan dan lingkungan.

3.5        Solusi dalam Mengurangi Terjadinya Gangguan Daur Nitrogen Akibat Limbah Usaha Peternakan Sapi Potong
Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dipakai untuk mengurangi terjadinya gangguan daur nitrogen akibat limbah usaha peternakan sapi potong:
  •  Penanaman hijauan diselingi leguminosa, hal ini ditujukan agar terjadi perputaran daur nitrogen sehingga nitrogen bebas dapat difiksasi.
  • Pemilihan lokasi, hal ini ditujukan agar tidak merusak lingkungan karena pembukaan lahan yang menyebabkan populasi tanaman semakin berkurang, air menjadi terkontaminasi, tanah menjadi terkontaminasi. Dengan hal tersebut maka kandungan nitrogen yang terlepas semakin berkurang.
  •  Menjadikan feses dan urin ternak sebagai pupuk, misalnya pupuk organik cair dan padat dengan proses yang tidak terlalu lama. Pupuk dibuat dengan kadar nitrogen yang cukup.













IV
KESIMPULAN
  
Berdasarkan tujuan dalam makalah ini dapat disimpulkan beberapa pernyataan, antara lain :

  1. Daur nitrogen adalah proses perubahan nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik yaitu amonia (NH3), NO2, NO3, kemudian menjadi nitrogen anorganik lagi.
  2.  Daur nitrogen dapat terjadi melalui beberapa tahap, yaitu tahap fiksasi, amonifikasi, nitrifikasi dan denitrifikasi.
  3. Kandungan nitrogen dalam limbah usaha peternakan sapi potong cukup tinggi dibandingkan dengan senyawa lainnya terutama urin dan feses. Kandungan nitrogen dalam urin dan feses sapi merupakan kandungan terbanyak kedua setelah kandungan air.
  4. Limbah usaha peternakan sapi potong sangat berpengaruh terhadap gangguan daur nitrogen. Banyaknya limbah peternakan sapi potong dapat menyebabkan banyaknya kandungan nitrogen yang menguap ke udara dan mengalir ke perairan dan tanah.  Banyaknya nitrogen yang terlepas menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan daur nitrogen.
  5. Kandungan nitrogen dalam limbah usaha peternakan sapi potong mengakibatkan terjadinya hujan asam, kontaminasi air, kontaminasi tanah dan pemanasan global. 
  6.  Solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi gangguan daur nitrogen, yaitu dengan melakukan penanaman hijauan diselingi tanaman leguminosa, pemilihan lokasi peternakan yang tepat dan menjadikan feses dan urin sebagai pupuk yang akan berguna untuk tanaman.


DAFTAR PUSTAKA







Tidak ada komentar: