Kamis, 04 Februari 2016

PROSES SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL



PEMBAHASAN KASUS
 PROSES SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL
Oleh :
Kelas: C           Kel: 01
Jaenah Widiyanti         200110130020
Redy Septiansyah          200110130023
Diana rizkika               200110130099
Brian Ramadhan          200110130103
Arif Fadhilillah                        200110130105
Riyanti Dewi R                        200110130118
Raditya Rachman        200110130320



FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014
I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
       Sebagai makhluk sosial, masyarakat saling membutuhkan satu sama lain. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tidak lepas dari proses sosial. Proses sosial adalah hubungan timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Proses soaial disebut juga interaksi sosial.
Dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak lepas dari interaksi sosial baik bersifat asosiatif maupun bersifat disosiatif. Contoh yang sering kita lihat seperti perkelahian, atau bentrok antar warga desa merupakan salah satu bentuk proses sosial yang bersifat disosiatif. Hal ini terjadi karena kurangnya pengertian dan sikap teloransi anatar warga. Disosiatif umumnya proses sosial yang bersifat negatif, tetapi ada pula proses sosial yang bersifat positif seperti asosiatif, seperti kerjasama, kelompok. Hal ini terjadi karena adanya keinginan-keinginan yang sama yang ingin dituju.
Proses sosial memberikan dampak positif dan dampak negatif kepada masyarakat. Untuk memperluas dampak positif, maka harus menekan dampak negatif. Pembahasan yang kami buat merupakan salah satu dampak positif dari proses sosial yang ada dalam masyarakat.



1.2. Rumusan masalah
1.      Apakah pengertian Proses sosial?
2.      Apakah syarat-syarat terjadinya proses sosial ?
3.      Bagaimana  bentuk-bentuk dari proses sosial?
4.      Apakah contoh dari proses sosial?


1.3. Maksud dan Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian proses sosial.
2.      Untuk mengetahui syarat-syarat terjadinya proses sosial.
3.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk dari proses sosial.
4.      Untuk mengetahui contoh proses sosial.









II
PENDEKATAN TEORI

Para sosiolog memamdang betapa pentingnya pengetahuan tentang proses sosial, mengingat bahwa pengetahuan tentang struktur masyarakat yang belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata tentang kehidupan bersama masyarakat. Bahkan Tamatsu Shibutani menyatakan bahwa sosiologi mempelajari transaksi-transaksi sosial yang mencakup usaha-usaha bekerja sama antara para pihak karena semua kegiatan manusia didasarkan pada gotong royong. ( Tamatsu Shibutani )
Interaksi Sosial merupakan dasar proses sosial, yang menunjukan pada proses sosial yang dinamis. Interaksi sosial sangat penting karena merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. ( Kimball Young dan Raymond ) Dengan cara interaksi sosial diharapkan akan diperoleh, baik aspek dinamis maupun statis dari masyarakat.
Bentuk umum dari proses sosial adalah interaksi sosial yand disebut juga dengan proses sosial, karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, atau individu dengan kelompok. ( Gillin dan Gillin )
Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada berbagai faktor, antara lain :
1.      Faktor imitasi.
2.      Faktor sugesti.
3.      Faktor identifikasi.
4.      Faktor simpati.
Faktor-faktor diatas merupakan faktor minimal yang terjadi dalam proses sosial, walaupun dalam kenyataannya proses tersebut sangat kompleks sehingga kadang-kadang sulit mengadakan pembedaan tegas antara faktor-faktor tersebut. ( Soejono Soekanto )
            Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial antaralain : ( Ibid )
1.      Adanya kontak sosial.
2.      Adanya komunikasi.
Secara fisik kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. Tetapi di era modernisasi seperti sekarang orang dapat mengadakan hubungan dengan orang lain tanpa harus, kontak menyentuhnya, seperti bicara lewat telepon, radio, surat, telegram, atau yang lainnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah tidak perlu menjadi syarat utama terjadinya kontak. ( Kingsley Davis )
            Gillin dan Gillin pernah menggolongkan proses sosial yang lebih luas menjadi dua macam, yaitu : ( Gillin dan Gillin )
1.      Proses-proses yang asosiatif seperti, kerja sama, akomodasi, dan asilimilasi.
2.      Proses-proses yang disosiatif seperti, persaingan dan kontroversi.

Dalam proses asosiatif salah satu bentuknya yaitu kerja sama. Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya dan kelompok lain. Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya kepentinga-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerja sama yang berguna. ( C.H. Cooley )
Dalam interaksi sosial yang terjadi di masyarakat, untuk mencapai tujuan bersama, wujudnya dapat berupa kerja sama ataupun pertentangan atau pertikaian. Kerja sama tidak serta merta selalu baik, tanpa adanya keteraturan sosial di masyarakat, kerja sama pun akan mengalami penyimpangan-penyimpangan atau menjadi tidak sehat dan bukan tidak mungkin dapat menimbulkan permusuhan.
Terdapat lima bentuk kontravensi, yaitu sebagai berikut.
1) Kontravensi umum
2) Kontravensi sederhana.
3) Kontravensi intensif
4) Kontravensi rahasia
5) Kontravensi taktis
(Leopold von Wiese dan Howard Becker)





III
ANALISIS KASUS

3.1. Contoh Kasus
Kasus I
Meningkatkan Pelayanan dan Fasilitas Desa
Selasa, 15/04/2014 - 08:43:18 WIB
JAMBI - Beberapa tahun terakhir terdapat beberapa pemekaran desa di seputar wilayah kerja PetroChina International Jabung Ltd di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Pemekaran desa merupakan proses pembagian wilayah desa menjadi lebih dari satu wilayah atas dasar prakarsa masyarakat dengan memperhatikan asal-usul dan adat istiadat maupun sosial budaya masyarakat setempat. Tujuan dari pemekaran desa ini tidak lain untuk meningkatkan pelayanan, mempercepat pembangunan dan dapat menciptakan kemandirian suatu daerah yang akan dimekarkan. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah, dan diperlukan peran berbagai pihak untuk berpartisipasi.
Melihat hal tersebut SKK Migas – PetroChina International Jabung Ltd melalui program Tanggung Jawab Sosialnya baru-baru ini telah menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Komputer mulai dari 28 Meret 2014 hingga 7 April 2014 di beberapa desa pemekaran yakni di Desa Delima, Desa Sungai Keruh, Desa Dataran Kempas, Desa Pematang Buluh, Desa Lulbuk Terentang, Desa Terjun Gajah, Desa Mandala Jaya dan Desa Muntialo.
“Pelatihan komputer ini sebenarnya merupakan tindak lanjut dari bantuan komputer dan beberapa perlengkapan kantor seperti meja, kursi, papan tulis, dan sound system yang telah terlebih dahulu diserahkan  kepada beberapa desa pemekaran di sekitar wilayah operasi kami di Kabupaten Tanjung Jabung Barat” ungkap Banu Subagyo Government and Relations PetroChina International Jabung Ltd.  Lebih lanjut, Banu Subagyo mengungkapkan “Kami berharap kegiatan ini dapat berkontribusi nyata bagi desa di wilayah kerja SKK Migas – PetroChina, khususnya bagi pengembangan kapasitas para pelaku pembangunan di desa”. 
Dalam kegiatan ini, SKK Migas PetroChina  memberikan pelatihan kepada lebih dari 40 orang aparatur desa.
“Kami menyambut baik dan merasa senang serta berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh PetroChina kepada kami, dengan adanya program ini kami jadi mempunyai fasilitas yang lebih menunjang untuk menjalankan administrasi pemerintahan desa” papar Hasan Basri Kepala Desa Delima. “Saya juga turut senang, karena beberapa diantara kami diberikan pelatihan, sehingga hal tersebut menambah pengetahuan kami guna memperlancar administrasi pemerintahan desa” pungkasnya. (*)
Kasus II
Perbedaan pendapat menentukan 1 Ramadhan
Konflik antara NU dan Muhammadiyah dalam kurun waktu ini sebetulnya tidak berkembang hingga taraf destruksi, hal ini bisa dilihat pada saat setelah Idul Fitri keadaan antara NU dan Muhammadiyah dalam topik ini cenderung mencair, bahkan saat penentuan Idul Adha praktis hampir tidak pernah ada perbedaan, meskipun saat mulai memasuki bulan Ramadhan, konflik ini mulai mencuat. “Status Quo” ini kemudian “dipecah” saat Muhammadiyah memilih untuk tidak mengikuti Sidang Itsbat pada penentuan hari raya Idul Fitri tahun 2012.
Muhammadiyah  menganggap bahwa sidang itsbat sudah melenceng dari tujuannya, sidang Itsbat yang awalnya mengakomodasi perbedaan-perbedaan dalam sistem penentuan hari raya Idul Fitri menjadi proses penghakiman terhadap kelompok minoritas pengguna metode penentuan yang berbeda (Maklumat Muhammadiyah nomor 444 tahun 2011 tentang evaluasi sidang Itsbat). Ini yang menjadi puncak konflik. Benarkah ini dikarenakan Muhammadiyah merasa pendapatnya tidak digubris? Apakah hanya perbedaan metode? Lantas, apa yang menjadi akar permasalahannya? NU dan Muhammadiyah bagaikan gunung es yang entah seberapa dalam es yang ada di bawah permukaan laut. Apa yang ada di balik permukaan bisa jadi itulah akar permasalahannya.

3.2. Pembahasan
Berdasarkan contoh kasus pertama, proses interaksi melibatkan kelompok dengan kelompok ( aparat desa dengan Petro China ). Dan syarat terjadinya interaksi adanya kontak dan komunikasi, hal ini sesuai dengan pendapat Gillin dan Gillin dan Ibid. Dengan adanya kontak sosial dan komunikasi aparat desa dengan Petro China dapat melakukan kerja sama yang masing-masing kelompok mempunyai tujuan yang sama.  
contoh kasus tersebut termasuk kerja sama yang dilakukan kedalam proses sosial bersifat asosiatif. Kerja sama dalam mewujudkan suatu usaha antara kelompok dengan kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.
Kerjasama antara aparat desa dengan Petro China mempunyai tujuan yang sama, yakni meningkatkan pelayanan mempercepat pembangunan dan menciptakan kemandirian dalam suatu daerah.
Kemudian pada kasus kedua, proses interaksinya melibatkan antar kelompok dimana di dalam kasus tersebut terjadi proses interaksi disosiasif  kontraversi, alam bentuknya yang murni kontraversi  merupakan sikap mental yang tersembunyi terhadap orang-orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian, tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian,dimana adanya perbedaan pendapat pada penentuan awal bulan Ramadhan antara pihak NU dengan Muhammadiyah dalam hal ini kontraversinya bersifa sederhana
           










KESIMPULAN
Individu adalah rasional dan produk dari hubungan sosial (interaksi social). Masyarakat adalah dinamis dan berevolusi, menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari individu. Realitas sosial adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik. Interaksi sosial meliputi pikiran, bahasa dan kesadaran akan diri sendiri. Interaksi sosial mengarah pada komunikasi non verbal. Sikap dan emosi individu dan kelompok dipelajari melalui bahasa. Pola aktivitas sosial itu sendiri memiliki aspek kreatif dan spontan.











DAFTAR PUSTAKA
Seokanto Soejono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:PT RajaGrafindo, 2012


Tidak ada komentar: