PEMBAHASAN KASUS
PROSES SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL
Oleh
:
Kelas:
C Kel: 01
Jaenah
Widiyanti 200110130020
Redy
Septiansyah 200110130023
Diana
rizkika 200110130099
Brian
Ramadhan 200110130103
Arif
Fadhilillah 200110130105
Riyanti
Dewi R 200110130118
Raditya
Rachman 200110130320
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagai
makhluk sosial, masyarakat saling membutuhkan satu sama lain. Dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat tidak lepas dari proses sosial. Proses sosial adalah hubungan timbal
balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Proses soaial disebut juga
interaksi sosial.
Dalam
kehidupan bermasyarakat kita tidak lepas dari interaksi sosial baik bersifat asosiatif
maupun bersifat disosiatif. Contoh yang sering kita lihat seperti perkelahian,
atau bentrok antar warga desa merupakan salah satu bentuk proses sosial yang
bersifat disosiatif. Hal ini terjadi karena kurangnya pengertian dan sikap
teloransi anatar warga. Disosiatif umumnya proses sosial yang bersifat negatif,
tetapi ada pula proses sosial yang bersifat positif seperti asosiatif, seperti
kerjasama, kelompok. Hal ini terjadi karena adanya keinginan-keinginan yang
sama yang ingin dituju.
Proses
sosial memberikan dampak positif dan dampak negatif kepada masyarakat. Untuk
memperluas dampak positif, maka harus menekan dampak negatif. Pembahasan yang
kami buat merupakan salah satu dampak positif dari proses sosial yang ada dalam
masyarakat.
1.2. Rumusan masalah
1.
Apakah
pengertian Proses sosial?
2.
Apakah
syarat-syarat terjadinya proses sosial ?
3.
Bagaimana bentuk-bentuk dari proses sosial?
4.
Apakah
contoh dari proses sosial?
1.3. Maksud dan Tujuan Masalah
1.
Untuk
mengetahui pengertian proses sosial.
2.
Untuk
mengetahui syarat-syarat terjadinya proses sosial.
3.
Untuk
mengetahui bentuk-bentuk dari proses sosial.
4.
Untuk
mengetahui contoh proses sosial.
II
PENDEKATAN
TEORI
Para sosiolog memamdang betapa pentingnya
pengetahuan tentang proses sosial, mengingat bahwa pengetahuan tentang struktur
masyarakat yang belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata tentang
kehidupan bersama masyarakat. Bahkan Tamatsu Shibutani menyatakan bahwa
sosiologi mempelajari transaksi-transaksi sosial yang mencakup usaha-usaha
bekerja sama antara para pihak karena semua kegiatan manusia didasarkan pada
gotong royong. ( Tamatsu Shibutani )
Interaksi
Sosial merupakan dasar proses sosial, yang menunjukan pada proses sosial yang
dinamis. Interaksi sosial sangat penting karena merupakan kunci dari semua
kehidupan sosial, tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan
bersama. ( Kimball Young dan Raymond ) Dengan cara interaksi sosial
diharapkan akan diperoleh, baik aspek dinamis maupun statis dari masyarakat.
Bentuk umum dari proses sosial adalah interaksi
sosial yand disebut juga dengan proses sosial, karena interaksi sosial
merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial
merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara
individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, atau individu dengan
kelompok. ( Gillin dan Gillin
)
Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan
pada berbagai faktor, antara lain :
1.
Faktor imitasi.
2.
Faktor sugesti.
3.
Faktor identifikasi.
4.
Faktor simpati.
Faktor-faktor
diatas merupakan faktor minimal yang terjadi dalam proses sosial, walaupun
dalam kenyataannya proses tersebut sangat kompleks sehingga kadang-kadang sulit
mengadakan pembedaan tegas antara faktor-faktor tersebut. ( Soejono
Soekanto
)
Syarat-syarat terjadinya interaksi
sosial antaralain : ( Ibid )
1.
Adanya kontak sosial.
2.
Adanya komunikasi.
Secara
fisik kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. Tetapi di era
modernisasi seperti sekarang orang dapat mengadakan hubungan dengan orang lain
tanpa harus, kontak menyentuhnya, seperti bicara lewat telepon, radio, surat,
telegram, atau yang lainnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah
tidak perlu menjadi syarat utama terjadinya kontak. ( Kingsley Davis )
Gillin dan Gillin pernah
menggolongkan proses sosial yang lebih luas menjadi dua macam, yaitu : ( Gillin
dan Gillin
)
1.
Proses-proses yang asosiatif
seperti, kerja sama, akomodasi, dan asilimilasi.
2.
Proses-proses yang disosiatif
seperti, persaingan dan kontroversi.
Dalam proses asosiatif salah satu bentuknya yaitu
kerja sama. Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap
kelompoknya dan kelompok lain. Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa
mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan
mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk
memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya
kepentinga-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta
yang penting dalam kerja sama yang berguna. ( C.H. Cooley )
Dalam interaksi sosial yang terjadi di masyarakat,
untuk mencapai tujuan bersama, wujudnya dapat berupa kerja sama ataupun
pertentangan atau pertikaian. Kerja sama tidak serta merta selalu baik, tanpa
adanya keteraturan sosial di masyarakat, kerja sama pun akan mengalami
penyimpangan-penyimpangan atau menjadi tidak sehat dan bukan tidak mungkin
dapat menimbulkan permusuhan.
Terdapat
lima bentuk kontravensi, yaitu sebagai berikut.
1) Kontravensi umum
2) Kontravensi sederhana.
3) Kontravensi intensif
4) Kontravensi rahasia
5) Kontravensi taktis
(Leopold
von Wiese dan Howard Becker)
III
ANALISIS
KASUS
3.1.
Contoh Kasus
Kasus
I
Meningkatkan
Pelayanan dan Fasilitas Desa
Selasa,
15/04/2014 - 08:43:18 WIB
JAMBI - Beberapa tahun terakhir
terdapat beberapa pemekaran desa di seputar wilayah kerja PetroChina
International Jabung Ltd di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Pemekaran desa
merupakan proses pembagian wilayah desa menjadi lebih dari satu wilayah atas
dasar prakarsa masyarakat dengan memperhatikan asal-usul dan adat istiadat
maupun sosial budaya masyarakat setempat. Tujuan dari pemekaran desa ini tidak
lain untuk meningkatkan pelayanan, mempercepat pembangunan dan dapat
menciptakan kemandirian suatu daerah yang akan dimekarkan. Namun, untuk
mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah, dan diperlukan peran berbagai pihak
untuk berpartisipasi.
Melihat hal tersebut SKK Migas
– PetroChina International Jabung Ltd melalui program Tanggung Jawab Sosialnya
baru-baru ini telah menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Komputer mulai dari 28
Meret 2014 hingga 7 April 2014 di beberapa desa pemekaran yakni di Desa Delima,
Desa Sungai Keruh, Desa Dataran Kempas, Desa Pematang Buluh, Desa Lulbuk
Terentang, Desa Terjun Gajah, Desa Mandala Jaya dan Desa Muntialo.
“Pelatihan komputer ini
sebenarnya merupakan tindak lanjut dari bantuan komputer dan beberapa
perlengkapan kantor seperti meja, kursi, papan tulis, dan sound system yang
telah terlebih dahulu diserahkan kepada beberapa desa pemekaran di
sekitar wilayah operasi kami di Kabupaten Tanjung Jabung Barat” ungkap Banu
Subagyo Government and Relations PetroChina International Jabung Ltd.
Lebih lanjut, Banu Subagyo mengungkapkan “Kami berharap kegiatan ini
dapat berkontribusi nyata bagi desa di wilayah kerja SKK Migas – PetroChina,
khususnya bagi pengembangan kapasitas para pelaku pembangunan di desa”.
Dalam kegiatan ini, SKK Migas
PetroChina memberikan pelatihan kepada lebih dari 40 orang aparatur desa.
“Kami menyambut baik dan merasa senang serta
berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh PetroChina kepada kami,
dengan adanya program ini kami jadi mempunyai fasilitas yang lebih menunjang
untuk menjalankan administrasi pemerintahan desa” papar Hasan Basri Kepala Desa
Delima. “Saya juga turut senang, karena beberapa diantara kami diberikan
pelatihan, sehingga hal tersebut menambah pengetahuan kami guna memperlancar
administrasi pemerintahan desa” pungkasnya. (*)
Kasus II
Perbedaan pendapat menentukan 1 Ramadhan
Konflik
antara NU dan Muhammadiyah dalam kurun waktu ini sebetulnya tidak berkembang
hingga taraf destruksi, hal ini bisa dilihat pada saat setelah Idul Fitri
keadaan antara NU dan Muhammadiyah dalam topik ini cenderung mencair, bahkan
saat penentuan Idul Adha praktis hampir tidak pernah ada perbedaan, meskipun
saat mulai memasuki bulan Ramadhan, konflik ini mulai mencuat. “Status Quo” ini
kemudian “dipecah” saat Muhammadiyah memilih untuk tidak mengikuti Sidang
Itsbat pada penentuan hari raya Idul Fitri tahun 2012.
Muhammadiyah
menganggap bahwa sidang itsbat sudah
melenceng dari tujuannya, sidang Itsbat yang awalnya mengakomodasi
perbedaan-perbedaan dalam sistem penentuan hari raya Idul Fitri menjadi proses
penghakiman terhadap kelompok minoritas pengguna metode penentuan yang berbeda
(Maklumat Muhammadiyah nomor 444 tahun 2011 tentang evaluasi sidang Itsbat).
Ini yang menjadi puncak konflik. Benarkah ini dikarenakan Muhammadiyah merasa
pendapatnya tidak digubris? Apakah hanya perbedaan metode? Lantas, apa yang menjadi
akar permasalahannya? NU dan Muhammadiyah bagaikan gunung es yang entah
seberapa dalam es yang ada di bawah permukaan laut. Apa yang ada di balik
permukaan bisa jadi itulah akar permasalahannya.
3.2. Pembahasan
Berdasarkan contoh
kasus pertama, proses interaksi melibatkan kelompok dengan kelompok ( aparat
desa dengan Petro China ). Dan syarat terjadinya interaksi adanya kontak dan
komunikasi, hal ini sesuai dengan pendapat Gillin dan Gillin dan Ibid. Dengan
adanya kontak sosial dan komunikasi aparat desa dengan Petro China dapat
melakukan kerja sama yang masing-masing kelompok mempunyai tujuan yang sama.
contoh kasus tersebut
termasuk kerja sama yang dilakukan kedalam proses sosial bersifat asosiatif.
Kerja sama dalam mewujudkan suatu usaha antara kelompok dengan kelompok manusia
untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.
Kerjasama antara aparat
desa dengan Petro China mempunyai tujuan yang sama, yakni meningkatkan
pelayanan mempercepat pembangunan dan menciptakan kemandirian dalam suatu
daerah.
Kemudian pada kasus
kedua, proses interaksinya melibatkan antar kelompok dimana di dalam kasus
tersebut terjadi proses interaksi disosiasif
kontraversi, alam bentuknya yang murni kontraversi merupakan sikap mental yang tersembunyi
terhadap orang-orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan
tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian, tetapi tidak sampai
menjadi pertentangan atau pertikaian,dimana adanya perbedaan pendapat pada
penentuan awal bulan Ramadhan antara pihak NU dengan Muhammadiyah dalam hal ini
kontraversinya bersifa sederhana
KESIMPULAN
Individu adalah
rasional dan produk dari hubungan sosial (interaksi social). Masyarakat adalah
dinamis dan berevolusi, menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari
individu. Realitas sosial adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik.
Interaksi sosial meliputi pikiran, bahasa dan kesadaran akan diri sendiri.
Interaksi sosial mengarah pada komunikasi non verbal. Sikap dan emosi individu
dan kelompok dipelajari melalui bahasa. Pola aktivitas sosial itu sendiri
memiliki aspek kreatif dan spontan.
DAFTAR PUSTAKA
Seokanto Soejono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:PT RajaGrafindo, 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar