Rabu, 29 Juni 2016

I'll Be Ok (Part 1)





Cast : Ok Taecyeon, Cho Jae Yeon, Im Yoona, Nichkhun, Kim Min Jun
Genre : Romance, Sad, Marriage Life

Part 1
“Aku mohon, lihatlah aku disini” – Cho Jae Yeon
“Jangan pergi, Aku mohon maafkan aku” – Ok Taecyeon
“Lupakan, disini aku untukmu” – Nichkhun

oooOOooooOOOooo
Pernikahan tanpa dasar cinta akankah bertahan hingga ajal yang memisahkan kami? Disinilah aku, diatas altar menggunakan gaun putih tanpa lengan yang menjuntai indah kebawah dengan ~ entah siapa, akupun tak menengalnya. Yang aku tahun namja yang sekarang berdiri disampingku dan mengucapkan janji suci itu sebentar lagi akan menjadi suamiku. Suami sah ku, suami yang tak pernah aku harapkan karna sejujurnya aku dijual ayahku padanya. Yah ayahku yang pemabuk dan penjudi. Ayah brengsekku yang sudah kesekian kalinya menjualku, tapi naas hari ini aku tidak bisa meloloskan diri lagi seperti waktu yang dulu-dulu. Namja yang sudah menjadi suamiku beberapa menit lalu itu mempunyai mata dan tangan dimana-mana, sehingga membuatku sulit untuk kabur darinya. Kenapa dia tidak menjamahku saja dan membuangku seperti sampah? Kenapa dia harus menikahiku? Alasannya klasik khas konglomerat~menikah dan warisan ditangan. Yah itulah alasan dia menikahiku, tanpa embel-embel cinta ataupun sayang. Oh Cho Jae Yeon malang sekali nasibmu
“kamarmu ada di bawah” ucap namja itu sambil berlalu meninggalkanku. Yah, setelah upacara pemberkatan itu Taecyeon~suamiku itu memutuskan untuk langsung pergi dari acara sialan itu dengan alas an ingin bersenang-senang.. hahahah bersenang-senang? Yah.. dia yang bersenang-senang dengan wanitanya bukan denganku.
Memang setelah kami sampai diapartemen mewah miliknya tidak lama kemudian bel berbunyi menandakan ada tamu. Dan suamiku itu seakan tahu siapa tamu yang berkunjung langsung membukakan pintu dan membawa wanitanya masuk kedalam kamarnya.. oh Tuhan… bahkan aku mendengan erangan dan desahan wanita itu… Tuhan… suamiku sedang menghabiskan malam pertamanya dengan wanita yang bukan istrinya. Malam pertama? Aku tertawa dalam hati, ini bukan malam pertama dia Jae Yeon-ah.. kau bodoh sekali. Makiku dalam hati sambil melangkahkan kakiku kedalam kamar yang ditunjuk Taecyeon.

Kamar satu petak dengan ranjang double single, kamar mandi, satu buah lemari, dan meja rias, khas kamar-kamar maid dirumah-rumah chaebol. Hai apa yang kamu harapkan Jae Yeon-ah? Keluarga yang rahmonis dan romantis? Jangan harap baby.. Kau hanya MAID. ‘berhentilah meratap masih untung kau dinikahi. Seandainya kau dibuang setelah mengandungpun anakmu pernah mempunyai appa yang jelas. Berhentilah. Istirahat, lihat kantung matamu’ maki Jae Yeon pada dirinya sendiri.

Alarem berbunyi dari telpon genggam yang sukses mengganggu mimpi yeoja cantik itu. Perlahan Jae Yeon membuka matanya, merenggangkan tangan sebentar dan berlalu kekamar mandi sekedar cuci muka dan sikat gigi~itu kegiatan wajib yeoja itu. Setelah selesai dengan kegiatan wajibnya Jae Yeon melangkahkan kakinya kearah dapar. Untuk apa lagi kalau bukan membuat sarapan?
Setelah selesai dengan urusan dapur, kaki mungil Jae Yeon perlahan menuju kamar tuan rumah. Ragu Jae Yeon berhenti didepan kamar suaminya
“sedang apa kau berdiri disitu?” suara berinton itu mengagetkan Jae Yeon yang tengah berfikir
“ahh.. selamat pagi.. aku ingin membangunkanmu, tapi kau sudah rapi” Jae Yeon menilai tampilan Taecyeon yang menggunakan celana bahan dongker dan jas yang senada dengan warna celananya itu
“makanlah sebelum berangkat” Jae Yeon mengintrupsi langkah Taecyeon yang menuju pintu apartemen
“haruskah?” dengan nada heran dan alis terangkat tinggi. Hai sejak kapan Taecyeon sarapan? Batinnya
“yap.. mulai sekarang kau harus membiasakan dirimu makan” Taecyeon pasrah saat tangannya ditarik Jae Yeon
“mana wanitamu?” tanya Jae Yeon penasaran, pasalnya dia belum melihat wanita malam yang dibawa ke kamar namja tersebut
“pergi”
“apakah baju yang kau pakai wanita itu yang memilih?”
“ani”
“besok. Biar aku yang menyiapkan pakaianmu”
“…” tidak ada jawaban dari Taecyeon
“kau mau makan apa nanti siang? Biar aku yang buatkan” Tanya Jae Yeon lagi
Tringggg bunyi garpu yang berbenturan dengan meja makan~ulah Taecyeon
“keumonhae.. ini masih pagi dan kau sudah brisik? Ya.. kau bukan istriku saat kita berdua, kau MAID” ucap Taecyeon tegas sambil menekan kata ‘maid’ dan berlalu pergi. Jae Yeon? Dia tidak apa-apa baginya kata-kata seperti itu sudah menjadi santapan dia sehari-hari, bahkan lebih burukpun dia sudah mengalaminya

‘Sial sekali yeoja itu’ sungut Taecyeon sambil melangkahkan kakinya menuju gedung 25 lantainya. Sial.. hari masih pagi dan moodku sudah benar-benar buruk. Brengsek ! maki Taecyeon dengan aura yang sangat-sangat dingin. Bahkan sekertarisnya yang biasanya cerewetpun hanya menunduk diam melihat aura Taecyeon.

#Taecyeon

Drrrtt drrrtt
“Yeoboseyo?” Jawabku dengan nada lembut dan senyum terbit disela-sela bibirku setelah mengetahui siapa yang menghubungiku
“apa oppa sibuk?” dengan nada manja seperti biasanya
“ne.. Wae? Bogoshipo?” godaku dan aku yakin pipinya bersemu merah
“ani.. aku ada didepan ruang kerjamu ..” aku langsung mematikan sambungan telpon dan berlalu menuju pintu ruang kerjaku
“yoona-ah.. kenapa tidak langsung masuk chagi?” tanyaku setelah mencium bibir mungilnya
“aku sengaja,, kejutan” Yoona mengganteng tanganku manja
“istrimu cantik oppa”
“berhentilah merajuk. Itu salahmu menolak lamaranku”
“aku bukan menolak, tapi aku belum ingin” dengan menekan kata-katanya. Yah Im Yoona yeojachingu yang sudah aku pacari Selama kurang lebih 1 tahun ini. Awalnya aku berniat menikah dengannya, tapi dia menolak dengan alasan ingin mengejar dunia modelingnya. Kecewa? Tentu tapi mau bagaimana lagi aku mencintainya
“oppa, berjanjilah tidak menciumnya bahkan menyentuhnya”
“ne chagi” dia tersenyu. Canti. Dan sekarang bibirku sudah menyambar bibir tipisnya. Kegiatan kami terhenti saat mendengan bunyi benda terjatuh didepanku

#Jae Yeon
Terserah, aku istrinya. Kalaupun dia mengusirku tidak mungkin didepan semua karyawannya. Setidaknya aku punya pemikiran suamiku itu orang yang menjungjung tinggi harga dirinya. Aku memasuki lift dan menekan nomer 25 yang menuju ruangan CEO digedung ini. Karena tidak ada sekertaris yang berjaga didepan ruangannya aku putuskan untuk langsung masuk ke dalam ruangannya dan tukk tempat makan yang aku bawa jatuh kelantai.. Tuhan,, bahkan dikantorpun dia seperti itu~berciuman panas. Sebagaimana bengsek lagi dia. Mataku memanas, bukan karna aku mencintainya aku kecewa dengannya.
“apa yang kau lakukan? Kau mengotori lantaiku” teriaknya begitu menggema diruangannya ini
“mian..”kataku pelan dan berniat pergi, tetapi sesuatu menahanku
“yoona-ah bisahkah kau tinggalkan ku dengannya sekarang?” lembut sekali nadamu tuan,, hatiku semakin teriris.. Tuhann… kita bahkan baru menikah 1 minggu lalu dan suamiku sudah berselingku dimalam pertama kita sah menjadi suami istri. Aku tidak kuat lagi menahan tangisku. Kenapa kau begitu lemah Jae Yeon-ah?? Jeritku dalam hati
“kau kenapa? Kau sakit melihatku bercumbu dengan kekasihku?” tanya Taecyeon sarkatis
“ani…” jawabku tegas, aku menghapus air mata dipipiku dengan punggung tangan secara kasar sambil melajutkan perkataanku yang terhenti “aku kecewa. Aku tidak mencintaimu, tapi aku berusaha menjadi istri yang baik dan menghormati janji suci kita. Tapi kau tidak. Aku tak butuh kasih cintamu tuan. Setidaknya hargai aku sebagai istri sahmu. Seribu kali kau bercumbu aku tak masalah, tolong jangan dihadapanku. Aku seperti sampah yang sangat buruk” kataku lemah sambil berlalu pergi

#Taecyeon
Ada apa denganku? Kenapa aku malah menahan yeoja itu sedangkan ada kekasihku saat ini?
“kau kenapa? Kau sakit melihatku bercumbu dengan kekasihku?” tanyaku berusaha sesinis mungkin
“ani…” dia berhenti sesaat untuk menghapus kasar air matanya.. oh mata itu tidak indah lagi, keluhku. Hai kau kenapa Taecyeon-ah?
“aku kecewa. Aku tidak mencintaimu, tapi aku berusaha menjadi istri yang baik dan menghormati janji suci kita. Tapi kau tidak. Aku tak butuh kasih cintamu tuan. Setidaknya hargai aku sebagai istri sahmu. Seribu kali kau bercumbu aku tak masalah, tolong jangan dihadapanku. Aku seperti sampah yang sangat buruk”
Deg
Aku mematung mendengar perkataannya. Seakan tertohok benda tajam, sakit. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Mian, kau bukan sampah ujarku dalam hati

TBC

Tidak ada komentar: