Cast
: Ok Taecyeon, Cho Jae Yeon, Im Yoona, Nichkhun, Kim Min Jun
Genre
: Romance, Sad, Marriage Life
Part
1
“Aku
mohon, lihatlah aku disini” – Cho Jae Yeon
“Jangan
pergi, Aku mohon maafkan aku” – Ok Taecyeon
“Lupakan,
disini aku untukmu” – Nichkhun
oooOOooooOOOooo
Pernikahan
tanpa dasar cinta akankah bertahan hingga ajal yang memisahkan kami? Disinilah aku,
diatas altar menggunakan gaun putih tanpa lengan yang menjuntai indah kebawah
dengan ~ entah siapa, akupun tak menengalnya. Yang aku tahun namja yang
sekarang berdiri disampingku dan mengucapkan janji suci itu sebentar lagi akan
menjadi suamiku. Suami sah ku, suami yang tak pernah aku harapkan karna
sejujurnya aku dijual ayahku padanya. Yah ayahku yang pemabuk dan penjudi. Ayah
brengsekku yang sudah kesekian kalinya menjualku, tapi naas hari ini aku tidak
bisa meloloskan diri lagi seperti waktu yang dulu-dulu. Namja yang sudah
menjadi suamiku beberapa menit lalu itu mempunyai mata dan tangan dimana-mana,
sehingga membuatku sulit untuk kabur darinya. Kenapa dia tidak menjamahku saja
dan membuangku seperti sampah? Kenapa dia harus menikahiku? Alasannya klasik
khas konglomerat~menikah dan warisan ditangan. Yah itulah alasan dia menikahiku,
tanpa embel-embel cinta ataupun sayang. Oh Cho Jae Yeon malang sekali nasibmu
“kamarmu
ada di bawah” ucap namja itu sambil berlalu meninggalkanku. Yah, setelah
upacara pemberkatan itu Taecyeon~suamiku itu memutuskan untuk langsung pergi
dari acara sialan itu dengan alas an ingin bersenang-senang.. hahahah
bersenang-senang? Yah.. dia yang bersenang-senang dengan wanitanya bukan
denganku.
Memang
setelah kami sampai diapartemen mewah miliknya tidak lama kemudian bel berbunyi
menandakan ada tamu. Dan suamiku itu seakan tahu siapa tamu yang berkunjung
langsung membukakan pintu dan membawa wanitanya masuk kedalam kamarnya.. oh
Tuhan… bahkan aku mendengan erangan dan desahan wanita itu… Tuhan… suamiku
sedang menghabiskan malam pertamanya dengan wanita yang bukan istrinya. Malam pertama?
Aku tertawa dalam hati, ini bukan malam pertama dia Jae Yeon-ah.. kau bodoh
sekali. Makiku dalam hati sambil melangkahkan kakiku kedalam kamar yang ditunjuk
Taecyeon.
Kamar
satu petak dengan ranjang double single, kamar mandi, satu buah lemari, dan
meja rias, khas kamar-kamar maid dirumah-rumah chaebol. Hai apa yang kamu
harapkan Jae Yeon-ah? Keluarga yang rahmonis dan romantis? Jangan harap baby..
Kau hanya MAID. ‘berhentilah meratap masih untung kau dinikahi. Seandainya kau
dibuang setelah mengandungpun anakmu pernah mempunyai appa yang jelas. Berhentilah.
Istirahat, lihat kantung matamu’ maki Jae Yeon pada dirinya sendiri.
Alarem
berbunyi dari telpon genggam yang sukses mengganggu mimpi yeoja cantik itu. Perlahan
Jae Yeon membuka matanya, merenggangkan tangan sebentar dan berlalu kekamar
mandi sekedar cuci muka dan sikat gigi~itu kegiatan wajib yeoja itu. Setelah selesai
dengan kegiatan wajibnya Jae Yeon melangkahkan kakinya kearah dapar. Untuk apa
lagi kalau bukan membuat sarapan?
Setelah
selesai dengan urusan dapur, kaki mungil Jae Yeon perlahan menuju kamar tuan
rumah. Ragu Jae Yeon berhenti didepan kamar suaminya
“sedang
apa kau berdiri disitu?” suara berinton itu mengagetkan Jae Yeon yang tengah
berfikir
“ahh..
selamat pagi.. aku ingin membangunkanmu, tapi kau sudah rapi” Jae Yeon menilai
tampilan Taecyeon yang menggunakan celana bahan dongker dan jas yang senada
dengan warna celananya itu
“makanlah
sebelum berangkat” Jae Yeon mengintrupsi langkah Taecyeon yang menuju pintu
apartemen
“haruskah?”
dengan nada heran dan alis terangkat tinggi. Hai sejak kapan Taecyeon sarapan? Batinnya
“yap..
mulai sekarang kau harus membiasakan dirimu makan” Taecyeon pasrah saat
tangannya ditarik Jae Yeon
“mana
wanitamu?” tanya Jae Yeon penasaran, pasalnya dia belum melihat wanita malam
yang dibawa ke kamar namja tersebut
“pergi”
“apakah
baju yang kau pakai wanita itu yang memilih?”
“ani”
“besok.
Biar aku yang menyiapkan pakaianmu”
“…”
tidak ada jawaban dari Taecyeon
“kau
mau makan apa nanti siang? Biar aku yang buatkan” Tanya Jae Yeon lagi
Tringggg
bunyi garpu yang berbenturan dengan meja makan~ulah Taecyeon
“keumonhae..
ini masih pagi dan kau sudah brisik? Ya.. kau bukan istriku saat kita berdua,
kau MAID” ucap Taecyeon tegas sambil menekan kata ‘maid’ dan berlalu pergi. Jae
Yeon? Dia tidak apa-apa baginya kata-kata seperti itu sudah menjadi santapan
dia sehari-hari, bahkan lebih burukpun dia sudah mengalaminya
‘Sial
sekali yeoja itu’ sungut Taecyeon sambil melangkahkan kakinya menuju gedung 25
lantainya. Sial.. hari masih pagi dan moodku sudah benar-benar buruk. Brengsek !
maki Taecyeon dengan aura yang sangat-sangat dingin. Bahkan sekertarisnya yang
biasanya cerewetpun hanya menunduk diam melihat aura Taecyeon.
#Taecyeon
Drrrtt
drrrtt
“Yeoboseyo?”
Jawabku dengan nada lembut dan senyum terbit disela-sela bibirku setelah
mengetahui siapa yang menghubungiku
“apa
oppa sibuk?” dengan nada manja seperti biasanya
“ne..
Wae? Bogoshipo?” godaku dan aku yakin pipinya bersemu merah
“ani..
aku ada didepan ruang kerjamu ..” aku langsung mematikan sambungan telpon dan
berlalu menuju pintu ruang kerjaku
“yoona-ah..
kenapa tidak langsung masuk chagi?” tanyaku setelah mencium bibir mungilnya
“aku
sengaja,, kejutan” Yoona mengganteng tanganku manja
“istrimu
cantik oppa”
“berhentilah
merajuk. Itu salahmu menolak lamaranku”
“aku
bukan menolak, tapi aku belum ingin” dengan menekan kata-katanya. Yah Im Yoona
yeojachingu yang sudah aku pacari Selama kurang lebih 1 tahun ini. Awalnya aku
berniat menikah dengannya, tapi dia menolak dengan alasan ingin mengejar dunia
modelingnya. Kecewa? Tentu tapi mau bagaimana lagi aku mencintainya
“oppa,
berjanjilah tidak menciumnya bahkan menyentuhnya”
“ne
chagi” dia tersenyu. Canti. Dan sekarang bibirku sudah menyambar bibir
tipisnya. Kegiatan kami terhenti saat mendengan bunyi benda terjatuh didepanku
#Jae
Yeon
Terserah,
aku istrinya. Kalaupun dia mengusirku tidak mungkin didepan semua karyawannya. Setidaknya
aku punya pemikiran suamiku itu orang yang menjungjung tinggi harga dirinya. Aku
memasuki lift dan menekan nomer 25 yang menuju ruangan CEO digedung ini. Karena
tidak ada sekertaris yang berjaga didepan ruangannya aku putuskan untuk
langsung masuk ke dalam ruangannya dan tukk tempat makan yang aku bawa jatuh
kelantai.. Tuhan,, bahkan dikantorpun dia seperti itu~berciuman panas. Sebagaimana
bengsek lagi dia. Mataku memanas, bukan karna aku mencintainya aku kecewa
dengannya.
“apa
yang kau lakukan? Kau mengotori lantaiku” teriaknya begitu menggema
diruangannya ini
“mian..”kataku
pelan dan berniat pergi, tetapi sesuatu menahanku
“yoona-ah
bisahkah kau tinggalkan ku dengannya sekarang?” lembut sekali nadamu tuan,,
hatiku semakin teriris.. Tuhann… kita bahkan baru menikah 1 minggu lalu dan
suamiku sudah berselingku dimalam pertama kita sah menjadi suami istri. Aku tidak
kuat lagi menahan tangisku. Kenapa kau begitu lemah Jae Yeon-ah?? Jeritku dalam
hati
“kau
kenapa? Kau sakit melihatku bercumbu dengan kekasihku?” tanya Taecyeon sarkatis
“ani…”
jawabku tegas, aku menghapus air mata dipipiku dengan punggung tangan secara kasar
sambil melajutkan perkataanku yang terhenti “aku kecewa. Aku tidak mencintaimu,
tapi aku berusaha menjadi istri yang baik dan menghormati janji suci kita. Tapi
kau tidak. Aku tak butuh kasih cintamu tuan. Setidaknya hargai aku sebagai
istri sahmu. Seribu kali kau bercumbu aku tak masalah, tolong jangan
dihadapanku. Aku seperti sampah yang sangat buruk” kataku lemah sambil berlalu
pergi
#Taecyeon
Ada apa
denganku? Kenapa aku malah menahan yeoja itu sedangkan ada kekasihku saat ini?
“kau
kenapa? Kau sakit melihatku bercumbu dengan kekasihku?” tanyaku berusaha
sesinis mungkin
“ani…”
dia berhenti sesaat untuk menghapus kasar air matanya.. oh mata itu tidak indah
lagi, keluhku. Hai kau kenapa Taecyeon-ah?
“aku
kecewa. Aku tidak mencintaimu, tapi aku berusaha menjadi istri yang baik dan
menghormati janji suci kita. Tapi kau tidak. Aku tak butuh kasih cintamu tuan. Setidaknya
hargai aku sebagai istri sahmu. Seribu kali kau bercumbu aku tak masalah,
tolong jangan dihadapanku. Aku seperti sampah yang sangat buruk”
Deg
Aku mematung
mendengar perkataannya. Seakan tertohok benda tajam, sakit. Tapi aku tak bisa
berbuat apa-apa. Mian, kau bukan sampah ujarku dalam hati
TBC

Tidak ada komentar:
Posting Komentar