Minggu, 15 November 2015

makalah reproduksi ternak _ kebuntingan



MAKALAH REPRODUKSI TERNAK
KEBUNTINGAN

Disusun Oleh:
Ismail Suryadi Lubis               200110130016
Jaenah Widiyanti                    200110130020
Siti Rohadatul ‘Aisy R           200110130022
Erma Sholihat                         200110130024
Kelompok 4
Kelas D



FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
SUMEDANG
2014


I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Setelah terjadinya pertemuan antara sperma dengan sel telur dalam perkawinan, maka terjadilah kebuntinan. Kebuntingan yaitu perkembangan embrio pasca fertilisasi menjadi fetus sampai dengan kelahiran   anak hewan/ternak. Terjadinya kebuntingan dapat didiagnosa dengan melihat tanda-tanda kebuntingan pada ternak yang ditandai dengan perubahan organ reproduksi ternak selama kebuntingan. Lamanya kebuntingan pada ternak dipengaruhi oleh berbagai faktor dan regulasi hormon.
Mempelajari dan memahami masa kebuntingan pada siklus reproduksi ternak sangat penting, karena dengan mempelajari dan memahami masa kebuntingan ternak kita dapat mengetahui tanda-tanda kebuntingan dan faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya kebuntingan.

1.2         Identifikasi Masalah
1.      Apa pengertian dari kebuntingan dan faktor lamanya kebuntingan ?
2.      Apasaja metode yang digunakan untuk mendiagnosa kebuntingan ?
3.      Apa tipe dari placenta ?
4.      Bagaimana regulasi hormon pada saat kebuntingan ?
5.      Bagaimana perubahan organ reproduksi selama kebuntingan ?
6.      Apasaja nutrisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi prenatal ?

1.3         Maksud dan Tujusn
1.      Mengetahui pengertian kebuntingan dan faktor lamanya kebuntingan.
2.      Mengetahui metode yang digunakan untuk mendiagnosa kebuntingan.
3.      Mengetahui tipe placenta.
4.      Mengetahui perubahan organ reproduksi selama kebuntingan.
5.      Mengetahui regulasi hormon pada saat kebuntingan.
6.      Mengetahui nutrisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi prenatal.


II
PEMBAHASAN

2.1         PENGERTIAN DAN LAMANYA KEBUNTINGAN
2.7.1   Pengertian Kebuntingan
Kebuntingan merupakan perkembangan embrio pasca fertilisasi menjadi fetus sampai dengan kelahiran   anak hewan/ternak (Rangga, 2014) (Gambar 1). Periode atau masa kebuntingan adalah jangka waktu sejak fertilisasi atau pembuahan sampai partus atau kelahiran anak. Selama periode ini sel-sel tunggal membagi diri dan berkembang menjadi induvidu yang sempurna (Toelihere, 1977).
Pada golongan hewan mamalia perkembangan embrio dan fetus terjadi di dalam alat reproduksi induknya sampai saatnya dilahirkan (Gambar 2). Perkembangan di dalam uterus sangat dipengaruhi oleh nutrisi untuk pertumbuhan fetus dan penyesuaian dari induk sampai akhir kebuntingan (Damayanti, 2014).

2.1.2 Lama Waktu Kebuntingan
          Lama waktu kebuntingan biasanya dihitung dari mulai terjadinya perkawinan sampai dengan kelahiran. Lamanya waktu kebuntingan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor yang berasal dari induk, fetus, faktor genetik dan lingkungan (Damayanti, 2014).
a.              Faktor yang berasal dari induk (maternal)
          Umur induk berpengaruh terhadap lama kebuntingan pada berbagai jenis hewan. Pada domba yang berumur delapan tahun mempunyai waktu kebuntingan dua hari lebih lama dari kebuntingan normal. Pada sapi dara lamanya waktu kebuntingan lebih pendek dari sapi yang lebih tua (Feradis, 2010).
b.             Faktor yang berasal dari fetus (fetal)
Suatu hubungan terbalik antara lama kebuntingan dengan besar “litter” banyak dilaporkan pada beberapa species kecuali pada babi. Foetus yang banyak pada jenis hewan monotocus juga mempunyai masa kebuntingan yang lebih singkat. Anak sapi kembar berada dalam kandungan 3 sampai 6 hari kurang dari anak sapi tunggal (Nur, 2011).
c.              Faktor Genetik
          Perbedaan lama kebuntingan terjadi antara spesies dan bangsa hewan. Beberapa spesies hewan mengalami perbedaan lama waktu kebuntingan karena anak yang dikandungnya merupakan persilangan. Pada kuda betina yang mengandung anak hasil persilangan dengan keledai waktu kebuntingannya lebih lama (360-380 hari) daripada apabila mengandung anak dari hasil perkawinan dengan sesama kuda (320-360 hari) (Damayanti, 2014).
d.             Faktor lingkungan
          Faktor musim juga berpengaruh terhadap lama kebuntingan. Waktu kebuntingan pada kuda yang waktu perkawinannya pada akhir musim panas dan gugur lebih pendek daripada perkawinan pada akhir musim semi. Demikian juga waktu kebuntingan lebih pendek sekitar 4 hari pada kuda yan diberikan pakan lebih baik dari yang biasa diberikan (Damayanti, 2014).

2.2         Metode Diagnosa Kebuntingan
          Diagnose kebuntingan dapat dilakukan dalam berbagai cara, sesuai dengan anatomi saluran kelamin dan fisiologi reproduksi masing-masing ternak. Sapi, kerbau, dan kuda cara yang efektif dengan ekplorasi rectal. Diagnose didasarkan pada asimetri, flktuasi, konsistensi, besar, dan lokasi cornua uteri dalam rongga pelvis atau rongga perut. Akan terasa adanya membran foetus, plasenta, pembesaran, serta fremitus arteria uterine media dan adanya gerak foetus itu sendiri (Widyani, 2009).
Berikut beberapa metode pemeriksaan kebuntingan yang bisa dilakukan :
1.    Persentase dari jumlah ternak yang tidak kembali estrus setelah dikawinkan (Non return rate)
Non return adalah persentase dari jumlah ternak yang tidak kembali berahi antara hari ke 60-90 setelah perkawinan atau inseminasi. Cara ini merupakan kriteria umum yang dipergunakan secara meluas untuk penentuan kebuntingan pada sapi, khususnya dalam program inseminasi buatan sapi. Cara ini terdapat beberapa kelemahan, yakni tidak semua ternak dapat diamati secara cermat, sehingga tidak smeua ternak yang kembali berahi diketahui, atau ternak mungkin dilaporkan atau sudah dijual. Ada juga kejadian dimana ternak bunting dapat menunjukkan berahi (diagnose palsu negative) dan sapi tidak bunting atau mengalami abortus menunjukkan anestrus (diagnose palsu positif) (Nur, 2011).
2.    Diagnosa Kebuntingan secara Hormonal
   Cara ini dilakukan dengan pengukuran plasma progesterone antara hari ke 18-24 setelah dikawinkan atau insenminasi. Prinsip dari cara ini adalah sapi-sapi yang tidak bunting pada hari ke 18, corpus luteumnya akan mengalami kemunduran, sehingga kadar progesteronnya rendah. Tetapi sebaliknya, pada sapi bunting corpus luetum tidak mengalami kemunduran sehingga kadar progesterone dalam darah tetap tinggi (Nur, 2011).
3.    Metode Klinis pada Diagnosa Kebuntingan
            Metoda klinis tergantung deteksi pada konseptus-fetus, membran fetus dan cairan fetus. Metoda ini meliputi eksplorasi rektal dan teknik ultrasonografi. Radiografi sebagai metoda diagnosa kebuntingan pada domba, kambing dan babi saat ini sudah harus ditinggalkan karena adanya bahaya radiasi bagi operatornya (Damayanti, 2006).
4.    Eksplarasi Rektal
            Eksplorasi rektal adalah metoda diagnosa kebuntingan yang dapat dilakukan pada ternak besar seperti kuda, kerbau dan sapi. Prosedurnya adalah palpasi uterus melalui dinding rektum untuk meraba pembesaran yang terjadi selama kebuntingan, fetus atau membran fetus. Teknik yang dapat digunakan pada tahap awal kebuntingan ini adalah akurat, dan hasilnya dapat langsung diketahui. Sempitnya rongga pelvic pada kambing, domba, dan babi maka eksplorasi rektal untuk mengetahui isi uterus tidak dapat dilakukan (Arthur, et al., 1996).
            Palpasi transrectal pada uterus telah sejak lama dilakukan. Teknik yang dikenal cukup akurat dan cepat ini juga relative murah. Namun demikian dibutuhkan pengalaman dan training bagi petugas yang melakukannya, sehingga dapat tepat dalam mendiagnosa. Teknik ini baru dapat dilakukan pada usia kebuntingan di atas 30 hari (Damayanti, 2006)
5.    Teknik Ultrasonik
            Teknik ultrasonik yang dipergunakan pada manusia telah diterapkan untuk mendiagnosa kebuntingan pada domba dan babi dengan hasil yang cukup memuaskan, namun peralatannya cukup mahal dan kurang praktis (Feradis, 2010).

2.3         Tipe-Tipe Placenta
Placenta dapat dianggap sebagai suatu homograft (transplant dari species yang sama) karena secara genetic ia berbeda dari hewan induk. Walaupun bersatu, secara intim dengan jaringan induk, ia tidak ditolak sampai kelahiran, suatu periode yang cukup lama untuk berlangsungnya suatu reaksi hormonal dari homograft tersebut (Nur, 2011).
Pada plasenta terdapat dua sirkulasi paralel dari fetus dan induk, sehingga aliran darah fetus dan induk tidak tercampur. Arteri dan vena uteria menyuplai darah ke plasenta. Arteri umbilicus membawa darah dari fetus ke plasenta, sedangkan vena umbilicus membawa darah balik dari plasenta ke fetus. Aliran darah pada pembuluh yang berbatasan antara induk dan fetus dapat berlawanan, searah atau terkonsentrasi (Damayanti, 2014).
          Plasenta mempunyai banyak fungsi bagi fetus, yaitu sebagai pengganti fungsi saluran pencernaan, paru-paru, ginjal, hati, dan kelenjar endokrin. Plasenta juga memisahkan antara organ fetus dengan induk, memastikan bahwa perkembangan fetus terjadi secara terpisah. Dalam fetus dann induknya tidak pernah bertemu langsung, kedua sirkulasi tersebut cukup dekat antara khorion dan endometrium untuk lewatnya oksigen dan nutrisi dari sirkulasi darah maternal ke dala darah fetus, serta membawa kotoran pada arah berlawanan (Damayanti, 2014).
Selama permulaan masa kebuntingan, placenta bertambah besar melalui proliferasi aktif dari sel-sel trophoblast. Selama pertengahan kebuntingan placenta mencapai ukurannya hamper maksimum, yang bertepatan dengna pertumbuhan cepat foetus dan sesudah itu akan menetap relatif konstan (Nur, 2011).
Tipe Placenta
            Tipe palcenta masing-masing mamlia berbeda-beda tergantung besar litter, struktur bagian dalam uterus dan serajat fusi antara jaringan induk dan foetus (Nur, 2011) (Gambar 3).
1.  Plancenta epitheliochorial atau placenta difussa, mempunyai hubungan yang meluas dan relative licin antara chorin dan epithel uterus, tidak memiliki carunculae pada uterus dan villi-villi chorion tersebar di seluruh permukaan placenta. Tipe ini terdapat pada babi dan kuda.
2.  Placenta  syndesmochorial atau placenta cotyledoner yang ditandai tidak adanya epithel uterus yang menutupi caruncule dan dotemukan terutama pada sapid an domba. Cotyledon pada chorioallantois bertaut pada  bersama-sama membentuk placentom, namun tidak smeua carunculae bercampur dnegan villi alantochorion. Jumlah carunculae yang fungsional bertambah dengan melanjutnya kebuntingan atau pada kebuntingan jamak.
3.      Hemochorialis
Sedangkan pengklasifikasian berdasarkan bentukan pertautan dari plasenta (distrinduksi dari vili chorion) dikenal 4 tipe, yaitu:
(1)      Plasenta Diffusa
(2)      Plasenta Cotyledonaria
(3)      Plasenta Zonaria

2.4         Regulasi Hormon Selama Kebuntingan
2.4.1   Konsentrasi Hormon Di Dalam Darah dan Urin
          Terdapat perbedaan pada beberapa spesies hewan mengenai eksresi hormon estrogen melalui urin. Pada kuda betina konsentrasi hormon estrogen di dalam plasma darah cederung rendah pada 3 bulan sampai puncaknya antara bulan ke-9 sampai bulan ke-11 umur kebuntingan. Penurunan dan peningkatan dari perkembangan gonad sinergi dengan peningkatan dan penurunan konsentrasi estrogen dalam plasma darah dan estrogen dalam urin selama pertengahan ke-2 dari kebuntingan (Damayanti, 2014).

2.4.2   Progesteron
          Progesteron adalah hormon utama untuk memelihara kebuntingan. Cl hadir selama kebuntingan terjadi pada semua ternak mamalia kecuali pada kuda. Sumber progesteron selama pertengahan akhir kebuntingan berasal dari plasenta (kuda dan domba) dan dari CL (sapi, kambing, dan babi) (Damayanti, 2014).

2.4.3   Estrogen
          Terjadi perbedaan antar spesies dalam eksresi estrogen dari saluran urinaria. Pada kuda, konsentrasi plasma estrogen tetap rendah selama 3 bulan pertama kebuntingan, kemudian meningkat mencapai puncak antara bulan ke-9 dan ke-11, setelah itu menurun hingga waktu melahirkan (Damayanti, 2014).

2.4.4   Equine Chorionic Gonadotopin (eCG)
          Antara hari 40-130 kebuntingan, eCG (juga dikenal dengan nama PMSG) dengan konsentrasi tinggi hadir dalam sirkulasi darah maternal tetapi tidak dalam darah fetus. eCG yang disekreesi oleh sel-sel tropoblas dan bukan oleh endometrium, melisiskan melutenisasi folikel dan memelihara fungsi corpora lutea sekunder (Damayanti, 2014).

2.5  Perubahan Organ Reproduksi Selama Kebuntingan
          Sampai pertengahan kebuntingan, terjadi perubahan-perubahan pada saluran alat reproduksi terutama pada vulva dan vagina. Vulva menjadi odematus dan vaskularisasi meningkat. Perubahan vulva pada sapi sangat jelas dibandingkan pada kuda dan terjadi pada bulan kelima kebuntingan, pada sapi dara dan bulan ketujuh pada sapi yang telah pernah beranak mukosa vagina tampak pucat dan kering selama masa kebuntingan tetapi odematus dan lunak pada akhir masa ke Serviks, selama masa kebuntingan, perkembangan fetus di dalam uterus ditahan oleh os eksternal dari serviks terjadi lendir kental sebagai penutup kanalis servikalis. Ini disebut sebagai lendir penyumbat kebuntingan (mucus plug of pregnancy). Lendir ini akan meleleh ketika mendekati waktu kelahiran (Suharyati, 2003).
          Uterus, sejalan dengan masa kebuntingan, uterus secara bertahap berkembang membesar sesuai dengan perkembangan fetus, tetapi myometrium tak berkontraksi sehingga tidak menimbulkan penekanan. Tiga fase dialami pada perkembangan uterus, yaitu proliferasi, pertumbuhan dan peregangan. Proliferasi pada sel-sel endometrium terjadi sebelum implantasi blastosis ini dicirikan oleh persiapan pemekaan terhadap progesteron pada endometrium. Pertumbuhan uterus dimulai setelah implantasi dan terdiri dari hiperopi otot, peningkatan jaringan ikat substansi dasar dan peningkatan serabut kolagen (Suharyati, 2003).
          Ovarium, corpus luteum pada kebuntingan dipertahankan sebagaii corpus luteum graviditatum (corpus luteum verum) akibatnya siklus birahi tidak terjadi. Pada beberapa sapi, estrus tetap terjadi meskipun dalam masa kebuntingan awal. Hal ini karena tetap terjadi perkembangan folikel pada ovariumnya. Pada kuda terdapat perkembangan 10-15 folikel pada ovariumnya pada hari ke-40 sampai 160 kebuntingan. Folikel-folikel ini akan mengalami uteinisasi menjadi corpus luteum asesoris. Pada sapi corpus lueum dipertahankan selama masa kebuntingan, tetapi pada kuda semua corpus luteum yang telah terbentuk mengalami regresi pada bulan ketujuh dari masa kebuntingan (Damayanti, 2014).
buntingan (Damayanti, 2014).

2.6  Kebuntingan Kembar pada Hewan Unipara
Sapi dan kerbau termasuk hewan unipara yang secara normal melepaskan satu ovum sewaktu ovulasi dan hanya satu fetus yang berkembang di dalam uterus. Terkadang terjadi kembar dua dan jarang sekali kembar tiga. Kelahiran kembar atau majemuk pada unipara tidak diinginkan dan dalam banyak hal bersifat patologik serta sering berbahaya terhadap induk maupun fetus. Kejadian abortus untuk kebuntingan kembar sesudah tiga bulan masa kebuntingan adalah lebih besar dari pada kebuntingan tunggal. Kira-kira 30-40% kebuntingan kembar berakhir dengan abortus. Presentase ini kadang-kadang menigkat mencapai 50%. Pada kebuntingan tunggal yang normalnya 3-5% berakhir dengan abortus. Angka konsepsi sesudah ovulasi kembar hanya setengah dari ovulasi tunggal (Suharyati,Sri. dkk, 2003).
Banyak kebuntingan kembar berakhir dengan premature. Periode kebuntingan kembar umumnya 5 hari lebih singkat dari pada kebuntingan tunggal. Kejadian abortus dan kelahiran premature adalah lebih tinggi pada triplet dan kebuntingan majemuk lainnya. Sedikit sekali turunan betina fertil yang berhubungan dengan sifat kembar.Anak kembar biasanya lebih kecil dan lebih lemah dari pada anak tunggal. Hal ini mungkin disebabkan Karena berkurangnya daerah plasenta atau berkurangnya zat makanan yang tersedia untuk setiap fetus, dan Karena penyingkatan periode kebuntingan (Suharyati,Sri. dkk, 2003).
Distokia pada akhir kebuntingan kembar juga lebih sering terjadi dibandingkan dengan pada kelahiran tunggal. Hal ini terjadi karena beberapa sebab termasuk kehilangan tonus uterus yang berkembang, adanya fetus yang mati dan menggembung, letak fetus kembar yang menyilang, dan sering terjadinya letak sungsang pada salah satu fetus. Sebab – sebab kelahiran kembar perlu diketahui agar dapat dicegah. Sebab – sebab tersebut dapat dibagi atas pengaruh lingkungan dan pengaruh herediter (Suharyati,Sri. dkk, 2003).
Pengaruh lingkungan terdiri dari musim, umur induk, perkawinan yang terlampau cepat, sesudah melahirkan dan penyuntikan hormone FSH. Musim mungkin mempunyai pengaruh terhadap kebuntingan kembar dan berhubungan dengan perbaikan makanan pada permulaan musim hujan. Umur induk ikut mempengaruhi kebuntingan kembar. Kejadian kembar jarang terjadi pada induk muda dan makin sering dengan meningkatnya umur, kemudian menurun lagi pada hewan tua (Suharyati,Sri. dkk, 2003).
Pengaruh herediter meliputi perbedaan bangsa, perbedaan antara induk dan pejantandan sista ovaria. Perbedaan bangsa dalam kejadian kembar dapat dilihat dari kenyatan bahwa kembar sering terjadi pada bangsa sapi perah dan jarang pada bangsa sapi potong (Suharyati,Sri. dkk, 2003).


2.7         Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prenatal
2.7.1   Nutrisi
          Blastosis atau awal embryo mendapat asupan nutrisi dari cairan endometrial. Sedangkan fetus menerima suplai makanan dari sirkulasi maternal melalui plasenta. Fetus membutuhkan karbohidrat, protein, vitamin serta mineral untuk berdiferensiasi pada perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya (Damayanti, 2014).
          Fetus menerima suplai glukosa secara kontinyu dari induknya melalui plasenta. Glukosa adalah bahan bakar metabolis utama bagi fetus. Hingga akhir masa kebuntingan, fetus mengakumulasikan glikogen pada hati dan otot skeletal untuk membantu dalam periode transisi setelah lahir sampai waktu menyusu yanng efisien terjadi. Fruktosa sedikit diabaikan, kecuali konsentrasi gula darahnya sangat rendah (Damayanti, 2014).

2.7.2   Jumlah Anak per Litter
Pada hewan jenis polytocus, makin banyak jumlah anak per litter makin kurang kecepatan pertumbuhan individu prenatal karena kompetisi antara fetus di dalam uterus. Berat fetus cenderung berbanding terbalik dengan jumlah anak per litter. Hubungan ini sebgian disebabkan oleh variasi fungsi plasenta dan lama kebuntingan. Pada jenis hewan monotocus, fetus kembar umumnya lebih kecil daripada fetus tunggal (Feradis, 2010).

2.7.3 Ukuran Plasenta
Gangguan pertumbuhan prenatal atas pengaruh plasenta dapat disebabkan oleh :
1.      Ukuran plasenta.
2.      Kondisi yang mempengaruhi ksndungan makanan di dalam daerah induk atau pemberiannya ke plasenta.
3.      Perkembagan yang kurang baik, kerusakan  dan abnormalitas membran plasma, yang mempengaruhi pengangkutan melalui membran tersebut atau
Gangguan sirkulasi plasenta fetalis (Feradis, 2010).
2.7.4 Suhu dan Udara Luar
Suhu udara luar yang tinggi selama kebuntingan mempengaruhi besar fetus pada beberapa spesies. Hewan-hewan yang terlampau kecil pada waktu lahir adalah fisiologik prematur dan mudah mati sesudah lahir karena mekanisme pengaruh  dalam kelahiran suhu yang kurang baik dan ketidaksanggupannya menghadapi stres lingkungan baru. Sebab-sebab yang pasti dalam kelahiran prematur secara fisiologik hingga kini belum jelas (Toelihere, 1993).

2.7.5 Hereditas
          Ukran fetus secara genetik ditentukan oleh komplemensi gennya sendiri, komplemensi gen induk dan komplemensi intrauterin dengan fetus lain. Perbedaan-perbedaan jenis, bamgsa dan strai dalam ukuran fetus sebagian disebabkan oleh perbedaab kadar pembagian seluler (Feradis, 2010).

2.7.6 Besar dan Ukuran Induk
          Besar induk mempunyai korelasi positif dengan pertumbuhan prenatal, lebih besar lebih baik. Pengaruh induk terhadap ukuran  fetus lebih jelas terlihat pada kuda dan sapi daripada domba karena masa kebuntingan yang relatif panjang, dimana jaringan induk bersaing dengan pertumbuhan fetus untuk periode yang lebih lama sehingga lebih efektif mengontrol besar fetus (Feradis, 2010).




III
KESIMPULAN

1.             Kebuntingan merupakan perkembangan embrio pasca fertilisasi menjadi fetus sampai dengan kelahiran   anak hewan/ternak. Sedangkan faktor yang mempengaruhi lamanya kebunatingan antara lain faktor yang berasal dari induk, fetus, dan genetik.
2.             metode yang digunakan untuk memniagnosa kebuntingan antaralain, persentase dari jumlah ternak yang tidak kembali estrus setelah dikawinkan (non return rate), diagnosa kebuntingan secara hormonal, metode klinis pada, eksplarasi rektal,teknik ultrasonik.
3.             Tipe-tipe placenta diantaranya adalah plancenta epitheliochorial, placenta  syndesmochorial, hemochorialis
4.             Perubahan organ reproduksi salama kebuntingan diantaranya vulva menjadi odematus dan vaskularisasi meningkat, vagina pucat dan kering, serviks terjadi lendir kental sebagai penutup kanalis servikalis, uterus secara bertahap berkembang membesar sesuai dengan perkembangan fetus, pada ovarium corpus luteum pada kebuntingan dipertahankan sebagaii corpus luteum graviditatum (corpus luteum verum) akibatnya siklus birahi tidak terjadi.
5.             Regulasi hormon pada saat kebutingan meliputi konsentrasi hormon di dalam darah dan urin, progesteron, estrogen, equine chorionic gonadotopin (eCG).
6.             Faktor-faktor yang mempengaruhi prenatal adalah hereditas, besar dan umur induk, nutrisi, jumlah anak per litter, suhu dan udara luar, dan ukuran plasenta.






DAFTAR PUSTAKA

Arthur, G. F.; Noakes, D.E.and Pearson, H. 1989. Veterinary Reproduction and
22 Obstetrics. 6ed . Bailliere Tindall. London.
Damayanti, Tita. 2006. Metode Deteksi Kebuntingan . Universitas Padjadjaran. Bandung.
Damayanti, Tita. 2014. Ilmu Reproduksi Ternak. Airlangga University Press.
          Surabaya.
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.
Nur, Ihsan, Moh., MS. 2011. Ilmu Reproduksi Ternak Dasar. University Brawijaya Press. Malang.
Rangga. 2014. Powerpoint Kebuntingan. Fakultas Peternakan. Universitas
          Padjajaran.
Suharyati,Sri.dkk. 2003. Buku Ajar Ilmu Reproduksi. Jurusan Reproduksi Ternak FP Unila: Bandar Lampung.
Toeliher, M.R. 1977. Fisiologi Reproduksi pada Tenak. Angkasa. Bandung Toeliher, M.R. 1993. Fisiologi Reproduksi pada Tenak. Angkasa. Bandung.
Widyani, Retno. 2009. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan. Swaganti
          Press. Cirebon.








Tidak ada komentar: