MAKALAH REPRODUKSI
TERNAK
KEBUNTINGAN
Disusun
Oleh:
Ismail
Suryadi Lubis 200110130016
Jaenah
Widiyanti 200110130020
Siti
Rohadatul ‘Aisy R 200110130022
Erma
Sholihat 200110130024
Kelompok
4
Kelas
D
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
SUMEDANG
2014
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Setelah
terjadinya pertemuan antara sperma dengan sel telur dalam perkawinan, maka
terjadilah kebuntinan. Kebuntingan yaitu perkembangan embrio pasca fertilisasi menjadi fetus sampai
dengan kelahiran anak hewan/ternak.
Terjadinya kebuntingan dapat didiagnosa dengan melihat tanda-tanda kebuntingan
pada ternak yang ditandai dengan perubahan organ reproduksi ternak selama
kebuntingan. Lamanya kebuntingan pada ternak dipengaruhi oleh berbagai faktor
dan regulasi hormon.
Mempelajari
dan memahami masa kebuntingan pada siklus reproduksi ternak sangat penting,
karena dengan mempelajari dan memahami masa kebuntingan ternak kita dapat
mengetahui tanda-tanda kebuntingan dan faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya
kebuntingan.
1.2
Identifikasi
Masalah
1. Apa
pengertian dari kebuntingan dan faktor lamanya kebuntingan ?
2. Apasaja
metode yang digunakan untuk mendiagnosa kebuntingan ?
3. Apa
tipe dari placenta ?
4. Bagaimana
regulasi hormon pada saat kebuntingan ?
5. Bagaimana
perubahan organ reproduksi selama kebuntingan ?
6. Apasaja
nutrisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi prenatal ?
1.3
Maksud
dan Tujusn
1. Mengetahui
pengertian kebuntingan dan faktor lamanya kebuntingan.
2. Mengetahui
metode yang digunakan untuk mendiagnosa kebuntingan.
3. Mengetahui
tipe placenta.
4. Mengetahui
perubahan organ reproduksi selama kebuntingan.
5. Mengetahui
regulasi hormon pada saat kebuntingan.
6. Mengetahui
nutrisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi prenatal.
II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN
DAN LAMANYA KEBUNTINGAN
2.7.1 Pengertian Kebuntingan
Kebuntingan
merupakan perkembangan embrio
pasca fertilisasi menjadi fetus sampai dengan kelahiran anak hewan/ternak
(Rangga, 2014) (Gambar 1). Periode atau masa kebuntingan adalah jangka waktu sejak
fertilisasi atau pembuahan sampai partus atau kelahiran anak. Selama periode
ini sel-sel tunggal membagi diri dan berkembang menjadi induvidu yang sempurna
(Toelihere, 1977).
Pada golongan
hewan mamalia perkembangan embrio dan fetus terjadi di dalam alat reproduksi
induknya sampai saatnya dilahirkan (Gambar 2). Perkembangan di dalam uterus
sangat dipengaruhi oleh nutrisi untuk pertumbuhan fetus dan penyesuaian dari
induk sampai akhir kebuntingan (Damayanti, 2014).
2.1.2
Lama Waktu Kebuntingan
Lama waktu kebuntingan biasanya
dihitung dari mulai terjadinya perkawinan sampai dengan kelahiran. Lamanya
waktu kebuntingan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor
yang berasal dari induk, fetus, faktor genetik dan lingkungan (Damayanti,
2014).
a.
Faktor yang berasal
dari induk (maternal)
Umur induk berpengaruh terhadap lama
kebuntingan pada berbagai jenis hewan. Pada domba yang berumur delapan tahun
mempunyai waktu kebuntingan dua hari lebih lama dari kebuntingan normal. Pada
sapi dara lamanya waktu kebuntingan lebih pendek dari sapi yang lebih tua
(Feradis, 2010).
b.
Faktor yang berasal
dari fetus (fetal)
Suatu hubungan terbalik antara lama kebuntingan dengan besar
“litter” banyak dilaporkan pada beberapa species kecuali pada babi. Foetus yang
banyak pada jenis hewan monotocus juga mempunyai masa kebuntingan yang lebih
singkat. Anak sapi kembar berada dalam kandungan 3 sampai 6 hari kurang dari
anak sapi tunggal (Nur, 2011).
c.
Faktor Genetik
Perbedaan lama kebuntingan terjadi
antara spesies dan bangsa hewan. Beberapa spesies hewan mengalami perbedaan
lama waktu kebuntingan karena anak yang dikandungnya merupakan persilangan.
Pada kuda betina yang mengandung anak hasil persilangan dengan keledai waktu
kebuntingannya lebih lama (360-380 hari) daripada apabila mengandung anak dari
hasil perkawinan dengan sesama kuda (320-360 hari) (Damayanti, 2014).
d.
Faktor lingkungan
Faktor musim juga berpengaruh terhadap
lama kebuntingan. Waktu kebuntingan pada kuda yang waktu perkawinannya pada
akhir musim panas dan gugur lebih pendek daripada perkawinan pada akhir musim
semi. Demikian juga waktu kebuntingan lebih pendek sekitar 4 hari pada kuda yan
diberikan pakan lebih baik dari yang biasa diberikan (Damayanti, 2014).
2.2
Metode
Diagnosa Kebuntingan
Diagnose kebuntingan dapat dilakukan
dalam berbagai cara, sesuai dengan anatomi saluran kelamin dan fisiologi
reproduksi masing-masing ternak. Sapi, kerbau, dan kuda cara yang efektif
dengan ekplorasi rectal. Diagnose didasarkan pada asimetri, flktuasi,
konsistensi, besar, dan lokasi cornua uteri dalam rongga pelvis atau rongga
perut. Akan terasa adanya membran foetus, plasenta, pembesaran, serta fremitus
arteria uterine media dan adanya gerak foetus itu sendiri (Widyani, 2009).
Berikut
beberapa metode pemeriksaan kebuntingan yang bisa dilakukan :
1. Persentase dari jumlah ternak yang
tidak kembali estrus setelah dikawinkan (Non return rate)
Non return
adalah persentase dari jumlah ternak yang tidak kembali berahi antara hari ke
60-90 setelah perkawinan atau inseminasi. Cara ini merupakan kriteria umum yang
dipergunakan secara meluas untuk penentuan kebuntingan pada sapi, khususnya
dalam program inseminasi buatan sapi. Cara ini terdapat beberapa kelemahan,
yakni tidak semua ternak dapat diamati secara cermat, sehingga tidak smeua
ternak yang kembali berahi diketahui, atau ternak mungkin dilaporkan atau sudah
dijual. Ada juga kejadian dimana ternak bunting dapat menunjukkan berahi
(diagnose palsu negative) dan sapi tidak bunting atau mengalami abortus
menunjukkan anestrus (diagnose palsu positif) (Nur, 2011).
2. Diagnosa
Kebuntingan secara Hormonal
Cara ini dilakukan dengan pengukuran plasma
progesterone antara hari ke 18-24 setelah dikawinkan atau insenminasi. Prinsip
dari cara ini adalah sapi-sapi yang tidak bunting pada hari ke 18, corpus
luteumnya akan mengalami kemunduran, sehingga kadar progesteronnya rendah.
Tetapi sebaliknya, pada sapi bunting corpus luetum tidak mengalami kemunduran
sehingga kadar progesterone dalam darah tetap tinggi (Nur, 2011).
3.
Metode Klinis pada Diagnosa Kebuntingan
Metoda klinis tergantung deteksi
pada konseptus-fetus, membran fetus dan cairan fetus. Metoda ini meliputi
eksplorasi rektal dan teknik ultrasonografi. Radiografi sebagai metoda diagnosa
kebuntingan pada domba, kambing dan babi saat ini sudah harus ditinggalkan
karena adanya bahaya radiasi bagi operatornya (Damayanti, 2006).
4.
Eksplarasi Rektal
Eksplorasi rektal adalah metoda
diagnosa kebuntingan yang dapat dilakukan pada ternak besar seperti kuda,
kerbau dan sapi. Prosedurnya adalah palpasi uterus melalui dinding rektum untuk
meraba pembesaran yang terjadi selama kebuntingan, fetus atau membran fetus. Teknik
yang dapat digunakan pada tahap awal kebuntingan ini adalah akurat, dan
hasilnya dapat langsung diketahui. Sempitnya rongga pelvic pada kambing, domba,
dan babi maka eksplorasi rektal untuk mengetahui isi uterus tidak dapat
dilakukan (Arthur, et al., 1996).
Palpasi transrectal pada uterus
telah sejak lama dilakukan. Teknik yang dikenal cukup akurat dan cepat ini juga
relative murah. Namun demikian dibutuhkan pengalaman dan training bagi petugas
yang melakukannya, sehingga dapat tepat dalam mendiagnosa. Teknik ini baru
dapat dilakukan pada usia kebuntingan di atas 30 hari (Damayanti, 2006)
5. Teknik Ultrasonik
Teknik ultrasonik yang dipergunakan
pada manusia telah diterapkan untuk mendiagnosa kebuntingan pada domba dan babi
dengan hasil yang cukup memuaskan, namun peralatannya cukup mahal dan kurang
praktis (Feradis, 2010).
2.3
Tipe-Tipe Placenta
Placenta dapat dianggap sebagai suatu homograft
(transplant dari species yang sama) karena secara genetic ia berbeda dari hewan
induk. Walaupun bersatu, secara intim dengan jaringan induk, ia tidak ditolak
sampai kelahiran, suatu periode yang cukup lama untuk berlangsungnya suatu
reaksi hormonal dari homograft tersebut (Nur, 2011).
Pada
plasenta terdapat dua sirkulasi paralel dari fetus dan induk, sehingga aliran
darah fetus dan induk tidak tercampur. Arteri dan vena uteria menyuplai darah
ke plasenta. Arteri umbilicus membawa darah dari fetus ke plasenta, sedangkan
vena umbilicus membawa darah balik dari plasenta ke fetus. Aliran darah pada
pembuluh yang berbatasan antara induk dan fetus dapat berlawanan, searah atau
terkonsentrasi (Damayanti, 2014).
Plasenta mempunyai banyak fungsi bagi
fetus, yaitu sebagai pengganti fungsi saluran pencernaan, paru-paru, ginjal,
hati, dan kelenjar endokrin. Plasenta juga memisahkan antara organ fetus dengan
induk, memastikan bahwa perkembangan fetus terjadi secara terpisah. Dalam fetus
dann induknya tidak pernah bertemu langsung, kedua sirkulasi tersebut cukup
dekat antara khorion dan endometrium untuk lewatnya oksigen dan nutrisi dari
sirkulasi darah maternal ke dala darah fetus, serta membawa kotoran pada arah
berlawanan (Damayanti, 2014).
Selama permulaan masa kebuntingan, placenta
bertambah besar melalui proliferasi aktif dari sel-sel trophoblast. Selama
pertengahan kebuntingan placenta mencapai ukurannya hamper maksimum, yang
bertepatan dengna pertumbuhan cepat foetus dan sesudah itu akan menetap relatif
konstan (Nur, 2011).
Tipe Placenta
Tipe palcenta masing-masing mamlia berbeda-beda
tergantung besar litter, struktur bagian dalam uterus dan serajat fusi antara
jaringan induk dan foetus (Nur, 2011) (Gambar 3).
1. Plancenta epitheliochorial atau placenta
difussa, mempunyai hubungan yang meluas dan relative licin antara chorin dan
epithel uterus, tidak memiliki carunculae pada uterus dan villi-villi chorion
tersebar di seluruh permukaan placenta. Tipe ini terdapat pada babi dan kuda.
2. Placenta
syndesmochorial atau placenta cotyledoner yang ditandai tidak adanya
epithel uterus yang menutupi caruncule dan dotemukan terutama pada sapid an
domba. Cotyledon pada chorioallantois
bertaut pada bersama-sama membentuk
placentom, namun tidak smeua carunculae bercampur dnegan villi alantochorion.
Jumlah carunculae yang fungsional bertambah dengan melanjutnya kebuntingan atau
pada kebuntingan jamak.
3. Hemochorialis
Sedangkan
pengklasifikasian berdasarkan bentukan pertautan dari plasenta (distrinduksi
dari vili chorion) dikenal 4 tipe, yaitu:
(1) Plasenta
Diffusa
(2) Plasenta
Cotyledonaria
(3) Plasenta
Zonaria
2.4
Regulasi
Hormon Selama Kebuntingan
2.4.1
Konsentrasi
Hormon Di Dalam Darah dan Urin
Terdapat perbedaan pada beberapa
spesies hewan mengenai eksresi hormon estrogen melalui urin. Pada kuda betina
konsentrasi hormon estrogen di dalam plasma darah cederung rendah pada 3 bulan
sampai puncaknya antara bulan ke-9 sampai bulan ke-11 umur kebuntingan.
Penurunan dan peningkatan dari perkembangan gonad sinergi dengan peningkatan
dan penurunan konsentrasi estrogen dalam plasma darah dan estrogen dalam urin
selama pertengahan ke-2 dari kebuntingan (Damayanti, 2014).
2.4.2
Progesteron
Progesteron adalah hormon utama untuk
memelihara kebuntingan. Cl hadir selama kebuntingan terjadi pada semua ternak
mamalia kecuali pada kuda. Sumber progesteron selama pertengahan akhir
kebuntingan berasal dari plasenta (kuda dan domba) dan dari CL (sapi, kambing,
dan babi) (Damayanti, 2014).
2.4.3
Estrogen
Terjadi perbedaan antar spesies dalam
eksresi estrogen dari saluran urinaria. Pada kuda, konsentrasi plasma estrogen
tetap rendah selama 3 bulan pertama kebuntingan, kemudian meningkat mencapai
puncak antara bulan ke-9 dan ke-11, setelah itu menurun hingga waktu melahirkan
(Damayanti, 2014).
2.4.4
Equine
Chorionic Gonadotopin (eCG)
Antara hari 40-130 kebuntingan, eCG
(juga dikenal dengan nama PMSG) dengan konsentrasi tinggi hadir dalam sirkulasi
darah maternal tetapi tidak dalam darah fetus. eCG yang disekreesi oleh sel-sel
tropoblas dan bukan oleh endometrium, melisiskan melutenisasi folikel dan
memelihara fungsi corpora lutea sekunder (Damayanti, 2014).
2.5
Perubahan Organ Reproduksi Selama
Kebuntingan
Sampai pertengahan kebuntingan,
terjadi perubahan-perubahan pada saluran alat reproduksi terutama pada vulva
dan vagina. Vulva menjadi odematus dan vaskularisasi meningkat. Perubahan vulva
pada sapi sangat jelas dibandingkan pada kuda dan terjadi pada bulan kelima
kebuntingan, pada sapi dara dan bulan ketujuh pada sapi yang telah pernah
beranak mukosa vagina tampak pucat dan kering selama masa kebuntingan tetapi
odematus dan lunak pada akhir masa ke Serviks, selama masa kebuntingan,
perkembangan fetus di dalam uterus ditahan oleh os eksternal dari serviks
terjadi lendir kental sebagai penutup kanalis servikalis. Ini disebut sebagai
lendir penyumbat kebuntingan (mucus plug of pregnancy). Lendir ini akan meleleh
ketika mendekati waktu kelahiran (Suharyati, 2003).
Uterus, sejalan dengan masa
kebuntingan, uterus secara bertahap berkembang membesar sesuai dengan
perkembangan fetus, tetapi myometrium tak berkontraksi sehingga tidak
menimbulkan penekanan. Tiga fase dialami pada perkembangan uterus, yaitu
proliferasi, pertumbuhan dan peregangan. Proliferasi pada sel-sel endometrium
terjadi sebelum implantasi blastosis ini dicirikan oleh persiapan pemekaan
terhadap progesteron pada endometrium. Pertumbuhan uterus dimulai setelah
implantasi dan terdiri dari hiperopi otot, peningkatan jaringan ikat substansi
dasar dan peningkatan serabut kolagen (Suharyati, 2003).
Ovarium, corpus luteum pada kebuntingan dipertahankan sebagaii corpus
luteum graviditatum (corpus luteum verum) akibatnya siklus birahi tidak
terjadi. Pada beberapa sapi, estrus tetap terjadi meskipun dalam masa
kebuntingan awal. Hal ini karena tetap terjadi perkembangan folikel pada
ovariumnya. Pada kuda terdapat perkembangan 10-15 folikel pada ovariumnya pada
hari ke-40 sampai 160 kebuntingan. Folikel-folikel ini akan mengalami
uteinisasi menjadi corpus luteum asesoris. Pada sapi corpus lueum dipertahankan
selama masa kebuntingan, tetapi pada kuda semua corpus luteum yang telah
terbentuk mengalami regresi pada bulan ketujuh dari masa kebuntingan
(Damayanti, 2014).
buntingan
(Damayanti, 2014).
2.6
Kebuntingan Kembar pada Hewan
Unipara
Sapi dan kerbau termasuk hewan unipara yang secara normal
melepaskan satu ovum sewaktu ovulasi dan hanya satu fetus yang berkembang di
dalam uterus. Terkadang terjadi kembar dua dan jarang sekali kembar tiga.
Kelahiran kembar atau majemuk pada unipara tidak diinginkan dan dalam banyak
hal bersifat patologik serta sering berbahaya terhadap induk maupun fetus.
Kejadian abortus untuk kebuntingan kembar sesudah tiga bulan masa kebuntingan
adalah lebih besar dari pada kebuntingan tunggal. Kira-kira 30-40% kebuntingan
kembar berakhir dengan abortus. Presentase ini kadang-kadang menigkat mencapai
50%. Pada kebuntingan tunggal yang normalnya 3-5% berakhir dengan abortus.
Angka konsepsi sesudah ovulasi kembar hanya setengah dari ovulasi tunggal
(Suharyati,Sri. dkk, 2003).
Banyak kebuntingan kembar berakhir dengan premature. Periode
kebuntingan kembar umumnya 5 hari lebih singkat dari pada kebuntingan tunggal.
Kejadian abortus dan kelahiran premature adalah lebih tinggi pada triplet dan
kebuntingan majemuk lainnya. Sedikit sekali turunan betina fertil yang
berhubungan dengan sifat kembar.Anak kembar biasanya lebih kecil dan lebih
lemah dari pada anak tunggal. Hal ini mungkin disebabkan Karena berkurangnya
daerah plasenta atau berkurangnya zat makanan yang tersedia untuk setiap fetus,
dan Karena penyingkatan periode kebuntingan (Suharyati,Sri. dkk, 2003).
Distokia pada akhir kebuntingan kembar juga lebih sering
terjadi dibandingkan dengan pada kelahiran tunggal. Hal ini terjadi karena
beberapa sebab termasuk kehilangan tonus uterus yang berkembang, adanya fetus
yang mati dan menggembung, letak fetus kembar yang menyilang, dan sering
terjadinya letak sungsang pada salah satu fetus. Sebab – sebab kelahiran kembar
perlu diketahui agar dapat dicegah. Sebab – sebab tersebut dapat dibagi atas
pengaruh lingkungan dan pengaruh herediter (Suharyati,Sri. dkk, 2003).
Pengaruh lingkungan terdiri dari musim, umur induk,
perkawinan yang terlampau cepat, sesudah melahirkan dan penyuntikan hormone
FSH. Musim mungkin mempunyai pengaruh terhadap kebuntingan kembar dan
berhubungan dengan perbaikan makanan pada permulaan musim hujan. Umur induk
ikut mempengaruhi kebuntingan kembar. Kejadian kembar jarang terjadi pada induk
muda dan makin sering dengan meningkatnya umur, kemudian menurun lagi pada
hewan tua (Suharyati,Sri. dkk, 2003).
Pengaruh herediter meliputi perbedaan bangsa, perbedaan
antara induk dan pejantandan sista ovaria. Perbedaan bangsa dalam kejadian
kembar dapat dilihat dari kenyatan bahwa kembar sering terjadi pada bangsa sapi
perah dan jarang pada bangsa sapi potong (Suharyati,Sri. dkk, 2003).
2.7
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prenatal
2.7.1
Nutrisi
Blastosis atau awal embryo mendapat
asupan nutrisi dari cairan endometrial. Sedangkan fetus menerima suplai makanan
dari sirkulasi maternal melalui plasenta. Fetus membutuhkan karbohidrat,
protein, vitamin serta mineral untuk berdiferensiasi pada perkembangan dan
pertumbuhan selanjutnya (Damayanti, 2014).
Fetus menerima suplai glukosa secara
kontinyu dari induknya melalui plasenta. Glukosa adalah bahan bakar metabolis
utama bagi fetus. Hingga akhir masa kebuntingan, fetus mengakumulasikan
glikogen pada hati dan otot skeletal untuk membantu dalam periode transisi
setelah lahir sampai waktu menyusu yanng efisien terjadi. Fruktosa sedikit
diabaikan, kecuali konsentrasi gula darahnya sangat rendah (Damayanti, 2014).
2.7.2
Jumlah Anak per Litter
Pada hewan jenis polytocus, makin banyak jumlah
anak per litter makin kurang kecepatan pertumbuhan individu prenatal karena
kompetisi antara fetus di dalam uterus. Berat fetus cenderung berbanding
terbalik dengan jumlah anak per litter. Hubungan ini sebgian disebabkan oleh
variasi fungsi plasenta dan lama kebuntingan. Pada jenis hewan monotocus, fetus
kembar umumnya lebih kecil daripada fetus tunggal (Feradis,
2010).
2.7.3 Ukuran Plasenta
Gangguan pertumbuhan prenatal atas pengaruh plasenta dapat
disebabkan oleh :
1.
Ukuran plasenta.
2. Kondisi yang mempengaruhi ksndungan makanan di dalam
daerah induk atau pemberiannya ke plasenta.
3. Perkembagan yang kurang baik, kerusakan dan abnormalitas membran plasma, yang
mempengaruhi pengangkutan melalui membran tersebut atau
Gangguan sirkulasi plasenta fetalis (Feradis,
2010).
2.7.4 Suhu dan Udara Luar
Suhu udara luar yang tinggi selama kebuntingan mempengaruhi
besar fetus pada beberapa spesies. Hewan-hewan yang terlampau kecil pada waktu
lahir adalah fisiologik prematur dan mudah mati sesudah lahir karena mekanisme
pengaruh dalam kelahiran suhu yang
kurang baik dan ketidaksanggupannya menghadapi stres lingkungan baru.
Sebab-sebab yang pasti dalam kelahiran prematur secara fisiologik hingga kini
belum jelas (Toelihere, 1993).
2.7.5 Hereditas
Ukran
fetus secara genetik ditentukan oleh komplemensi gennya sendiri, komplemensi
gen induk dan komplemensi intrauterin dengan fetus lain. Perbedaan-perbedaan
jenis, bamgsa dan strai dalam ukuran fetus sebagian disebabkan oleh perbedaab
kadar pembagian seluler (Feradis, 2010).
2.7.6 Besar dan Ukuran Induk
Besar
induk mempunyai korelasi positif dengan pertumbuhan prenatal, lebih besar lebih
baik. Pengaruh induk terhadap ukuran
fetus lebih jelas terlihat pada kuda dan sapi daripada domba karena masa
kebuntingan yang relatif panjang, dimana jaringan induk bersaing dengan
pertumbuhan fetus untuk periode yang lebih lama sehingga lebih efektif
mengontrol besar fetus (Feradis, 2010).
III
KESIMPULAN
1.
Kebuntingan merupakan perkembangan embrio pasca fertilisasi menjadi fetus sampai
dengan kelahiran anak hewan/ternak.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi lamanya kebunatingan antara lain faktor yang
berasal dari induk, fetus, dan genetik.
2.
metode yang digunakan untuk memniagnosa kebuntingan antaralain, persentase dari jumlah ternak yang
tidak kembali estrus setelah dikawinkan (non return rate), diagnosa
kebuntingan secara hormonal, metode klinis pada, eksplarasi rektal,teknik
ultrasonik.
3.
Tipe-tipe placenta diantaranya adalah plancenta epitheliochorial,
placenta syndesmochorial, hemochorialis
4.
Perubahan organ reproduksi salama kebuntingan diantaranya vulva
menjadi odematus dan vaskularisasi meningkat, vagina pucat dan kering, serviks
terjadi lendir kental sebagai penutup kanalis servikalis, uterus secara
bertahap berkembang membesar sesuai dengan perkembangan fetus, pada ovarium corpus luteum pada kebuntingan
dipertahankan sebagaii corpus luteum graviditatum (corpus luteum verum)
akibatnya siklus birahi tidak terjadi.
5.
Regulasi hormon pada
saat kebutingan meliputi konsentrasi hormon di dalam darah dan urin,
progesteron, estrogen, equine chorionic gonadotopin (eCG).
6.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi prenatal adalah hereditas, besar dan umur induk, nutrisi, jumlah
anak per litter, suhu dan udara luar, dan ukuran plasenta.
DAFTAR PUSTAKA
Arthur, G. F.; Noakes,
D.E.and Pearson, H. 1989. Veterinary Reproduction and
22 Obstetrics. 6ed . Bailliere Tindall. London.
22 Obstetrics. 6ed . Bailliere Tindall. London.
Damayanti, Tita. 2006. Metode
Deteksi Kebuntingan . Universitas Padjadjaran. Bandung.
Damayanti, Tita.
2014. Ilmu Reproduksi Ternak.
Airlangga University Press.
Surabaya.
Feradis.
2010. Reproduksi
Ternak.
Alfabeta. Bandung.
Nur, Ihsan, Moh., MS.
2011. Ilmu Reproduksi Ternak Dasar.
University Brawijaya Press. Malang.
Rangga. 2014. Powerpoint Kebuntingan. Fakultas
Peternakan. Universitas
Padjajaran.
Suharyati,Sri.dkk.
2003. Buku Ajar Ilmu Reproduksi.
Jurusan Reproduksi Ternak FP Unila: Bandar Lampung.
Toeliher,
M.R. 1977. Fisiologi Reproduksi pada
Tenak. Angkasa. Bandung Toeliher, M.R. 1993. Fisiologi Reproduksi pada Tenak. Angkasa. Bandung.
Widyani, Retno.
2009. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi
Buatan. Swaganti
Press. Cirebon.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar